SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tampaknya politik uang (money politic) belum bisa dihilangkan dari pesta demokrasi akbar di pedesaan, Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), yang akan dilakukan serentak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur pada 15 Juli 2013 mendatang.
Saat ini, Tim Sukses (Timses) dari masing-masing calon Kades yang ada di Tuban, mulai marak dijumpai sedang menukarkan uang pecahan dari Rp2.000, Rp10.000 hingga Rp20.000 di sejumlah bank setempat. Meski tidak mengutarakan secara gamblang untuk apa uang itu ditukarkan, namun jumlah uang receh itu rata-rata mencapai puluhan juta rupiah.
“Biasa, Mas, mau ada pemilihan kepala desa,†kata salah satu Timses dari Kecamatan Merakurak, yang enggan identitasnya disebut, Senin (8/6/2013).
Sementara itu, beberapa warga disejumlah desa juga mengaku sudah mulai mendapat uang pemikat dari calon kepala desa yang akan berkompetisi. Uang itu diterimakan melalui Timses dengan jumlah yang bervariatif. Sesuai dengan kemampuan dari masing-masing calon.
“Dari satu calon saya dapat Rp25.000, sedang dari calon lain saya mendapat Rp50.000,†kata Suntoro (37), salah satu warga dari salah satu desa di Palang, Tuban.
Selain jumlah nominal, penerimaan uang pemikat ini juga beragam. Ada yang diberikan per orang dalam satu desa, atau berdasar pada jumlah Kepala Keluarga (KK) saja.
Terakhir, beberapa desa memang sudah ada kesepakatakan antarcalon Kades. Yaitu mereka iuran sejumlah uang untuk diberikan kepada Panitia Pilkades. Dari Panitia Pilkades, uang ini akan diberikan kepada warga yang datang untuk menggunakan hak pilih. Sebagai ganti rugi untuk warga karena tidak bekerja saat datang ke TPS.
“Akan digunakan sebagai ganti rugi saja, karena warga tidak bekerja sehari saat datang ke TPS,†ungkap salah satu Panitia Pilkades. (edp)
Â