Operator Migas Diminta Fokuskan CSR Pertanian

SuaraBanyuurip.comRirin W

Bojonegoro – Komunitas Petani Organik Bojonegoro, Jawa Timur meminta kepada perusahaan migas yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi di wilayah Bojonegoro untuk lebih serius memperhatikan para petani. Sebab  keberadaan industrialisasi migas yang berlangsung saat ini telah banyak memakan lahan pertanian sehingga dapat mengancam ketahanan pangan.

Ketua Komunitas Petani Organik Bojonegoro, Koesdwiawantoadi, mengungkapkan, proyek migas yang sedang berlangsung sekarang ini telah banyak menggunakan lahan pertanian masyarakat dan mengancam ketahanan pangan. Kegiatan migas itu seperti Lapangan Banyuurip, Blok Cepu di wilayah Kecamatan Gayam, Lapangan Sukowati, Blok Tuban di wilayah Kecamatan Bojonegoro dan Kapas, Sumur Tiung Biru (TBR) di wilayah Kecamatan Tambakrejo.

Belum lagi, lanjut dia, rencana proyek Gas Cepu  yang akan berlangsung di wilayah Ngasem dan Padangan.

“Ini akan menjadi sebuah ancaman jika operator migas tidak segera mengutamakan kepentingan para petani agar kelangsungan produktivitas padi tetap terjaga,” tandas Koesdwiawantoadi.

Pria yang juga menjabat sebagai Kasi Bina Anak Didik Lembaga Pemasyarakatan Bojonegoro ini mengatakan, ancaman berkurangnya stok pangan di Bojonegoro ini dapat dihindari bila operator migas lebih maksimal dalam melaksanakan program corporate social responsibility (CSR) – nya untuk bidang pertanian.

Baca Juga :   Desa Energi Berdikari Elnusa Sumengko Bojonegoro Raih Penghargaan Anugerah CSR IDX Channel 2023

“Karena mayoritas warga Bojonegoro adalah petani, jadi sudah seharusnya CSR itu lebih difokuskan ke bidang pertanian,” tandas Koesdwiawantoadi.

Bentuk CSR bidang pertanian yang dapat dilaksanakan operator migas diantaranya adalah dengan memberikan pelatihan kepada petani di Bojonegoro untuk memanfaatkan pupuk organik. Dengan cara ini petani tidak perlu membeli pupuk atau obat pembasmi hama karena cukup menggunakan bahan yang telah disediakan alam, yang dapat meningkatkan produksi padi dan menekan biaya lainnya.

“Ini seperti yang sudah kita lakukan sekarang ini. Alangkah baiknya jika operator memberikan pelatihan petani di wilayah operasinya agar petani tetap dapat meningkatkan produktifitasnya dengan keterbatasan lahan yang ada,” pungkas dia. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *