SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Pembebasan lahan untuk pengembangan Lapangan Terbang (Lapter) Ngloram menjadi perbincangan hangat warga Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hal ini menyusul adanya kepastian terkait rencana diaktifkannya kembali lapter tersebut yang akan rencananya akan diperpanjang landasan pacunya serta pembangunan sarana pendukung lainnya.
Warga di sekitar Lapter Ngloram sekarang ini banyak menggantungkan harapan besar bakal bergelimang uang dari hasil penjualan lahannya untuk kebutuhan pengembangan lapter tersebut.
Meski sudah ada kepastian dari pemerintah pusat, namun warga sekitar Lapter Ngloram harus bersabar. Karena masih menunggu sosialisasi secara resmi kepada warga sekitar dan para pemilik lahan.
Kepala Desa Ngloram, Haryanto kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (27/7/2013), mengatakan, setelah ada peninjauan Lapter Ngloram oleh stakeholder beberapa waktu lalu, rencanya akan digelar sosialisasi lanjutan untuk mengetahui permintaan harga tanah yang diajukan warga pemilik lahan.
“Waktu tinjauan kemarin juga disampaikan akan ada sosialisasi yang dipusatkan di balai desa sini. Dan kami masih menunggu,” kata Haryanto.
Haryanto tak menyangkal, jika saat ini harga tanah dan pembebasan lahan menjadi perbincangan hangat dikalangan pemilik lahan. Apalagi sesuai informasi patokan harga yang akan digunakan dalam pembebasan lahan nantinya menggunakan harga tanah pada waktu pembebasan lahan double track (rel ganda) kereta api Semarang – Surabaya.
“Harga tertinggi waktu pembebasan lahan itu hanya Rp1 juta per meter persegi. Dan kelihatannya mereka akan meminta harga tanah setingi-tingginya,” ungkap Haryanto.
Untuk pengembangan Lapter Ngloram itu dimungkinkan akan dilakukan pembebasan lahan seluas 20 hektar. Karena landasan pacu akan diperpanjang hingga 2.200 meter. Sehingga pembebasan lahan akan dilakukan sampai tanah milik warga Desa Klagen, Kecamatan Kedungtuban.
“Harga tanah nanti kita tetap menunggu tawaran harga dari tim yang dibentuk untuk survei dan penentuan harga. Dan itu nantinya warga minta dilibatkan dalam penentuan harganya,” tukas Haryanto.
Sementara itu, Kondisi saat ini, sebagian tanah yang masih menjadi asset bandara Ngloram tersebut selama bertahun-tahun setelah terakhir kali digunakan oleh Pertamina tahun 1993 silam digarap oleh warga sekitar untuk lahan pertanian. Sesuai kesepakatan, tanah itu akan dikembalikan warga jika Lapter Ngloram diaktifkan. (ali)