SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Gubernur Jawa Timur (Jatim), Soekarwo, mengaku mencontek konsep penjajah untuk penanganan banjir yang kerap melanda Kabupaten Tuban, Bojonegoro, dan Kabupaten Lamongan. Konsep tersebut merupakan konsep pengairan yang diterapkan penjajah untuk Jatim pada awal abad 18.
“Ada beberapa hal yang kita lakukan untuk menangani banjir ditempat tersebut,†kata Soekarwo, saat berada di Gedung Graha Sandiya Tuban, Selasa (30/7/2013).
Pakde, sapaan akrab Soekarwo, ceritakan pada tahun 1800 terjadi banjir besar di Surabaya akibat luapan Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Kemudian Belanda mengatasi banjir itu dengan mengalirkan air dari Nlirip ke Porong, serta mengalirkan air dari Kalimas ke Jagir.
“Hanya dengan cara meniru konsep itu Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Gresik bisa terbebas dari Banjir,†tambah dia, menerangkan.
Untuk mengatasi banjir dibeberapa wilayah itu, saat ini di Bengawan Solo telah ditambah dua sudetan bengawan lagi. Serta melakukan pengerukan agar debit air yang semula hanya 640 m3 per detik bisa menjadi 2.500 m3 per detik. Juga melakukan pengerukan di bagian hilir Bengawan Solo yang terletak dilepas pantai Sedayu lawas, Kabupaten Lamongan.
“Memakan anggaran hingga 1,3 trilyun, dananya kita patungan dengan pemerintah pusat,†tegas Pakde.
Dengan metode managemen air seperti ini, Pakde berharap masalah banjir akibat luapan Bengawan Solo bisa teratasi. Para petani, serta masyarakat juga bisa menikmati hasil managemen air dari mega proyek yang rencananya bisa digunakan pada tahun depan.