SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan – Para penjual buah di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur mengaku omzet penjualannya turun drastis pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebulan lalu. Padahal, biasanya saat ramadan seperti ini mereka dapat meraup pendapatan lumayan besar.
Menurut sejumlah pedagang yang ditemui SuaraBanyuurip.com, lesunya penjualan buah dikarenakan mahalnya harga barang-barang pokok kebutuhan rumah tangga pasca kenaikan harga BBM. Akibatnya masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan barang primer dibanding membeli buah.
“Sejak kenaikan harga BBM yang beli buah jauh berkurang, Mas. Dagangan tiap hari sepi,” ujar pedagang buah di Pasar Sidorejo, Mira, Rabu (31/7/2013)
Wanita yang sudah sebelas tahun berjualan buah ini mengaku baru kali ini merasakan sepinya berdagang buah. Omzet penjualannya turun hingga 40 persen.
Pedagang buah di Pasar Agrobis, Babat, Ramzi, mengatakan, bulan ramadan biasanya pembeli sangat ramai. Karena buah menjadi hidangan keluarga setelah berbuka puasa.
“Puasa kali ini dagangan sepi sekali Mas, jarang yang beli buah,” keluh dia dikonfirmasi terpisah.
Karena pembelian sepi, Ramzi tidak berani kulakan buah dalam jumlah besar. Dia takut buah tersebut tidak cepat laku dan akan membusuk sehingga merugikannya.
Ramzi menilai, sepinya pasar buah bukan saja karena meroketnya harga barang-barang kebutuhan pokok, melainkan juga diakibatkan naiknya harga buah yang mencapai 10-20 persen yang disebabkan naiknya biaya transportasi.
Untuk harga klengkeng kini mencapai Rp30 ribu/kilogram, anggur merah Rp50 ribu/kilogram, anggur biasa (hitam) Rp40 ribu /kilogram, apel Rp20 ribu / kilogram, jeruk Rp8000-12.000 /kilogram.
Di sentra buah Pasar Agrobis, sejak kenaikan harga BBM pedagang buah berkurang jumlahnya. Sebagian pedagang buah diperkirakan memilih banting stir usaha lain karena lesunya pasar buah. Buah yang dijual juga tidak selengkap sebelum dagangan sepi. Rata-rata pedagang hanya menjual anggur, apel, jeruk dan klengkeng. (tok)