Wilayah Siesmik Blok Nona Bukan Daerah Abangan

camat bluluk

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamogan – Wilayah Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, selama ini mendapat cap sebagai daerah abangan karena melakatnya tradisi nyadran (sedakah bumi) yang dilakukan masyarakat di lokasi punden atau tampat pemakaman.

Namun predikat negatif salah satu wilayah Blok Nona yang pernah dilalui survey seismik Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP) tersebut ditepis Camat Bluluk, Suja’i setelah melihat langsung aktifitas ibadah masyarakat Bluluk selama bulan ramadhan.

“Tidak benar jika dikatakan Kecamatan Bluluk daerah abangan. Sebaliknya, kehidupan masyarakat cukup agamis,” tegas Suja’i kepada Suarabanyuurip.com di ruang kerjanya, Kamis (1/8/2013).

Menurut camat yang dilantik pada 28 Maret 2013 lalu itu, kehidupan masyarakat yang agamis itu terlihat saat dirinya melakukan safari ramadan di 9 desa ada di wilayah tersebut.  Setiap musola mupun masjid di setiap desa selalu penuh sesak jamaah sedang melaksanakan salat tarawih.

Safari ramadan itu dilakukan Suja’i bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam kegiatan tahunan itu dia melihat langsung kehidupan warganya dan sekaligus menyampaikan program-program dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan.

Baca Juga :   Tukar Guling TKD Gayam Gunakan Aturan Lama

“Saya lebih banyak mensosialisasikan program-program pemkab sedang MUI lebih pada pembinaan mental spiritual,” ujar mantan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Bluluk ini, memaparkan.

Ditanya latar belakang munculnya predikat abangan pada masyarakat di Kecamatan Bluluk, Suja’i mengungkapkan, karena selama ini desa-desa di wilayah Bluluk masih kental dengan budaya nyadran ditempat punden atau kuburan dengan menggelar langen tayup.

“Nah karena tradisi itulah maka muncul cap abangan atau tidak mengenal agama. Tapi sebenarnya itu hanya salah persepsi saja,” tandas dia.

Padahal, kata Suja’i, jika mau memahami lebih mendalam sebenarnya kegiatan nyadran yang biasa dilakukan setiap tahun di 9 desa di wilayah Bluluk itu merupakan bagian dari seni dan Budaya. Karena masyarakat  masih tetap menjalankan salat dan perintah agama lainnya.

“Dengan seni dan budaya hidup terasa lebih indah,” pungkasnya. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *