SuaraBanyuurip.com -Â Samian Sasongko
Bojonegoro – Hingga saat ini proyek air injeksi dari Sungai Bengawan Solo untuk produksi puncak minyak Banyuurip, Blok Cepu di Desa Sudu, Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur belum dimulai. Padahal pemerintah menargetkan produksi puncak sebesar 165 ribu barel per hari (bph) berlangsung pada Oktober 2014 mendatang.
Proyek pengambilan air injeksi dari Bengawan Solo itu masuk dalam paket engineering, procurement and constructions (EPC) – 5 Banyuurip yang dilaksanakan konsorsium PT. Hutama Karya (HK) – Rekayasa Industri (Rekind), kontraktor Mobil Cepu Limited (MCL).
Sesuai skenario, air dari sungai terpanjang di Pulau Jawa itu akan dialirkan ke waduk buatan di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam melalui pipa sebelum diinjeksikan. Namun hingga saat ini belum diketahui siapakah kontraktor yang ditunjuk PT HK – Rekind untuk mengerjakan belum proyek tersebut. Sebab sampai sekarang belum ada sosialisasinya kepada warga sekitar.
Seorang warga Desa Sudu, Sakrip, mengatakan, hingga saat ini belum terlihat pengerjaan proyek air injeksi secara maksimal. Bahkan belum diketahui pelaksana proyek tersebut.
“Pengerjaan yang dilakukan masih minim sekali, Mas. sedangkan siapa kontraktornya saya tidak tau,” kata Sakrip yang juga tokoh masyarakat Desa Sudu kepada www.suarabanyuurip.com, Sabtu (10/08/2013).
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Sudu, Abdul Manan, menjelaskan, suatu hal yang wajar jika warga banyak tidak mengetahui siapa kontraktor yang bakal mengerjakan proyek pengambilan air injeksi di wilayahnya. Karena, hingga saat ini belum ada sosialisasi secara maksimal yang dilakukan kontraktor.
“Lelang tendernya kapan saya tidak tau, Mas. Tapi, tau-tau ada team mengaku kontraktor dari PT PDP yang datang kerumah mau mengerjakan proyek injeksi tersebut,” ungkap Abdul Manan.
Dia berharap, siapapun kontraktor yang mengerjakannya harus melibatkan warga dalam pengerjaannya. Agar dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan gejolak.
“Keterlibatan warga Sudu harus diprioritaskan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sehingga, dapat mengeliminir aksi warga yang nantinya bisa menghabat pekerjaan proyek,” harap Manan.(sam)