SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan- Nasib petani di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur kian memprihatinkan. Selain kesulitan mendapatkan air untuk pengairan dimusim musim kemarau seperti ini, mereka juga dipusingkan dengan melambungnya harga bibit dan obat-obatan pertanian.
Diawal musim kemarau seperti ini petani tadah hujan tidak lagi bisa maksimal bercocok tanam. Kalau pun memaksa bertanam mereka harus bekerja ektra keras. Karena harus tekun menyiram tanaman pagi dan sore dari air yang diambil dari sumur pompa atau sumur biasa yang dibangun disawah dengan kedalamannya bisa mencapai 50 meter hingga 70 meter.
Disaat sulit irigasi, petani lebih memilih bercocok tanam holtikultura semacam tomat, cabe, terong, sawi dan mentimun. Tanaman jenis ini tidak banyak membutuhkan air seperti halnya tanaman padi.
Namun, ironisnya harga-harga bibit dan obat tanaman saat ini melambung tinggi sejak naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu.
“Nasib petani benar-benar menderita mas. Sudah sulit irigasi, harga-harga bibit dan obat pertanian naik cukup tinggi,” kata Ridwan, petani di Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (2/8/2013).
Walau harga membumbung tinggi petani tetap harus membeli karena tidak ada pilihan lain “Berapapun harganya bibit atau obat ya tetap harus beli mas, karena tidak ada pilihan lain kalau ingin tetap bercocok tanam,” sergah Sugeng, petani lainnya.
Sejumlah toko pertanian di Lamongan mengakui harga bibit dan obat pertanian naik kisaran 20-30 persen. “Iya mas, barang-barang pada naik semua mengikuti naiknya BBM. Kenaikan berkisar 20-30 persen,” sambung Didik, pemilik toko Pertanian Unggul Sari di Kecamatan Babat.
Secara umum, menurut Didik, harga untuk obat Herbisida (obat rumput dan gulma) naik 30 persen. Obat Herbisida kenaikannya paling tinggi karena barangnya masih import. Sedang jenis obat peptisida naik 15-20 persen karena buatan lokal. Sedang untuk bibit kenaikannya mencapai 10-15 persen.
Meski harga barang naik tinggi namun tidak mengurangi jumlah pembeli. Dimusim kemarau petani banyak membeli bibit dan obat tanaman holtikultura semacam timun, semangka, kacang panjang, cabe, melon, terong dan sawi. (tok)