SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Memasuki awal September tahun ini, kekeringan yang melanda desa/kelurahan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah semakin meluas. Tercatat sebanyak 80 desa mengajukan bantuan air bersih ke pemerintah kabupaten setempat.
“80 desa itu menyebar di 8 kecamatan,” kata Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Blora, Sri Handoko, melalui Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Ignatius Ary Soesanto kepada suarabanyuurip.com, Senin (2/8/2013).
Diperkirakan, permintaan bantuan air bersih akan terus meningkat mengingat bulan September hingga Oktober mendatang merupakan puncak musim kemarau. “Untuk desa yang sudah mengajukan bantuan akan segera kami kirim,” tegas Ignatius.
Dari 80 desa yang dilanda kekeringan itu, menurut Ignatius, juga termasuk desa-desa yang Agustus lalu sudah dilakukan pengedropan air bersih oleh Pemkab Blora.”Karena memang kondisi kesulitan air bersih, maka mereka mengajukan bantuan kembali,” ujarnya.
Sesuai data di satpol PP Blora, untuk desa yang sudah dilakukan pengedropan diantaranya enam desa di Kecamatan Jati. Yakni Desa Doplang, Desa Singget, Desa Jati, Desa Gabusan, Desa Randulawang dan Desa Pengkoljagong. Kemudian  11 desa di Kecamatan Ngawen yang meliputi Desa Wantilgung, Desa Bogowanti, Desa Gondang, Desa Sendangagung, Desa Semawur, Desa Talokwohmojo, Desa Karangtengah, Desa Bandungrojo, Desa Plumbon, Desa Gedebeg dan Desa Sambonganyar.
“Rata-rata setiap desa mendapatkan bantuan dua hingga empat tangki (satu tangki kapasitas 5.000 liter,” imbuh Ignatius.
Minimnya anggaran penanggulangan bencana kekeringan ini membuat Pemkab terus koordinasi dengan Pemprov Jateng melalui Bakorlin I Pati.”Sewaktu-waktu jika semakin banyak lagi desa yang dilanda kekeringan, namun anggarannya tidak mencukupi,” ujar Ignatius, mengungkapkan.
“Meski demikian, kami juga mengharapkan dari pihak swasta maupun organisasi kemasyarakatan untuk turut serta peduli dengan kegiatan pengedropan air bersih ke daerah rawan kekeringan,” harap dia. (ali)