Pemdes Ngampel Minta Peningkatan CSR

Sekretaris Desa Ngampel

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro- Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang diberikan operator Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) dinilai masih kurang maksimal oleh Pemerintahan Desa (Pemdes) Desa Ngampel,  Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

“Kesannya selama ini JOB P-PEJ hanya asal memberikan program tanpa ada pendampingan,” jelas Sekretaris Desa Ngampel, Hantoyono.

Pria 45 tahun ini menyampaikan, program yang perlu ditingkatkan diantaranya masalah ekonomi dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), karena selama ini SDM masyarakat masih rendah. Jika operator hanya memberikan CSR berupa uang tunai ke masyarakat tentu tidak akan bisa mengelolanya dengan baik.

“Kalau bisa, masyarakat diberi pelatihan sekaligus pendampingan. Umpama dapat uang digunakan untuk usaha apa yang sekiranya menjadi mata pencaharian,” tukasnya. 

Dia mencontohkan, salah satu program CSR yang diberikan masyarakat adalah budidaya tanaman sawo, dan srikaya jumbo. Tetapi masyarakat tidak bisa  mengembangkan karena hanya diberi tanamannya saja tanpa ada pendampingan, bagaimana cara membudidayakan tanaman tersebut. Sampai akhirnya banyak pohonnya yang mati bahkan tidak berbuah sama sekali.

Baca Juga :   Pertamina EP Bantu Mesin Perontok Padi

“Begitu juga pemberian program budidaya udang coaster, begitu diberi bibit dibiarkan begitu saja. Kami tidak diberi pendampingan atau pengawasan bagaimana proses membudidaya udang coaster, akhirnya ya mati semua udangnya,” tegas Hantoyono. 

Pihaknya sudah mencoba membuat proposal untuk pendampingan program-program kemasyarakatan itu pada JOB P-PEJ. Akan tetapi tidak pernah ada tindak lanjut, alasannya harus meminta persetujuan dari Satuan Pelaksana Kerja Khusus Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“Saking lamanya lupa mungkin atau disepelekan, padahal buat kami sangat berharga,” imbuhnya.

Inginnya masyarakat, program-program itu tidak diberi secara langsung, tapi bagaimana pemanfaatannya, budidayanya sampai hasil akhir diberikan juga oleh operator. Menurutnya, dengan pemberian program secara instan sama saja menggarami lautan, atau melakukan hal sia-sia, karena masyarakat masih bodoh dan awam.

” Jangan terus merasa sudah memberikan program tugasnya selesai, tapi bagaimana operator bisa menyukseskan masyarakat desa,” pungkasnya. (rien) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *