Tebu Blora Dijual Ke Luar Daerah

sosialisasi

SuaraBanyuurip.com - Ali Musthofa

Blora – Petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah memasuki musim panen. Namun hasil panen itu dijual ke beberapa pabrik gula di luar daerah. Hal ini dikarenakan, sampai kini pembangunan pabrik gula oleh PT. Genis Multi Manis (GMM) di Tinapan, Kecamatan Todanan masih dalam tahap pembangunan.

Di Blora, PT. GMM memiliki ribuan hektar lahan tebu binaan yang saat ini memasuki masa panen. Namun oleh GMM hasil panen itu juga dijualnya ke beberapa pabrik luar daerah.

“Lahan kami yang kini memasuki masa panen juga untuk sementara kita kirim ke pabrik gula luar daerah, seperti di Cepiring Kendal, Sudono Pati, Madiun dan pabrik gula lainnya,” ujar Bagian Penanaman Tebu PT. GMM Blora dalam sosialisasi kegiatan penyuluhan peningkatan produksi pertanian dan perkebunan, khususnya tebu di Dukuh Lebok, Kelurahan Tambakromo, Wahyuningsih di hadapan puluhan anggota kelompok tani petanam tebu setempat, Jum’at (6/9/2013).

Dia juga menginformasikan bahwa pabrik gula yang ada di Todanan pembangunannya akan selesai pada akhir tahun 2013 ini.”Tahun 2014 mendatang baru bisa terima kiriman tebu dari petani Blora,” sergah Wahyuningsih.

Baca Juga :   Mobil Kontraktor MCL Diduga Tabrak Pelajar

Bila pabrik sudah dioperasikan dipastikan akan banyak dibutuhkan tebu yang akan diproduksi menjadi gula serta dibutuhkan perluasan area lahan binaan untuk ditanami tebu. Karena kapasitas pabrik GMM mencapai 4 ribu ton per hari dengan masa giling 3 sampai 4 hari.

“Itu sama artinya ada 800 truk perhari,” tegas dia.

Adapun luasan lahan tebu yang dibutuhkan mencapai 14 ribu hektar lahan pada masa-masa puncak produksi gula di tahun 2015 mendatang guna suplai penggilingan tebu.”Jadi masih terbuka bagi masayarakat untuk menyediakan lahannya untuk ditanami tebu,” jelasnya.

Wahyu mengaku, hingga bulan ini sudah ada lahan binaan PT. GMM seluas 3 ribu hektar yang tersebar di beberapa desa di Kabupaten Blora, sehingga masih sangat banyak lahan yang dibutuhkan. “Karena tebu ini punya nilai ekonomis yang tinggi,” ungkapnya.

Mayoritas petani tebu di Blora menilai penentuan harga jual tebu sangat dipengaruhi rendemen tebu itu sendiri. Sehingga petani menanggap rendemen merupakan permainan dari pihak pabrik untuk menekan harga jual tebu agar lebih murah.

Baca Juga :   Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 15 Ditutup Senin Depan

“Sebetulnya rendemen itu dipengaruhi dua hal, dari kualitas tebu dan peralatan pabriknya,” jawab Wahyu, menanggapi pertanyaan petani .

Karena mayoritas pabrik gula yang ada itu peralatan mesin yang dipakai sudah sangat berumur, maka proses penggilingan dalam keefisienan peremasan tebu bisa jadi kurang maksimal. Maka rendemennya biasanya kisaran 6 sampai 7 %, artinya misalnya dari 100 kg tebu hanya bisa menghasilkan 6-7 kg gula.

“Kita berani jamin kalau rendemen di pabrik kami minimal 8 %. Karena semua peralatan dan mesin kami itu semuanya baru,” tegas Wahyu.

Demikian pula, penjualan tebu ke luar daerah ini jelas sangat membebani petani tebu. Karena selain mereka harus mengeluarkan biaya operasional sewa truk untuk mengangkut tebu. Jarak Blora dengan daerah penjualan tebu yang cukup jauh menjadikan biaya bahan bakar truk juga lebih mahal.(ali)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *