SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Demo yang sedianya hanya dilakukan oleh sejumlah security (Satpam) lokal dari salah satu perusahaan rekanan dari PT Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Awar-Awar, di Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ternyata diikuti juga oleh pekerja proyek PLTU yang merupakan warga ring 1, Rabu (11/9/2013).
Saat ini, ratusan pekerja PLTU dari ring 1 tersebut mulai memadati pintu masuk perusahaan. Mereka meminta supaya perusahaan memprioritaskan pekerja dari lokal untuk semua bidang. Asal pekerjaan tersebut memang bisa dipegang oleh warga lokal.
“Tuntutan kami tidak muluk-muluk, kami minta penyaringan tenaga kerja diutamakan warga lokal,” kata Sabar, salah satu pekerja dari PLTU dalam orasinya.
Menurut Sabar, aksi pekerja lokal ini merupakan bentuk kekecewaan kepada perusahaan. Karena selama mereka bekerja, banyak pekerjaan kasar yang juga ditangani oleh orang luar dari Tuban.
“Setelah kita tanya mereka dari Rembang, Trenggalek, Surabaya. Padahal hanya berbekal ijazah SMA,” jelas Sabar.
Untuk itu, unjuk rasa dari Satpam dan pekerja lokal ini bukan untuk mereka sendiri. Tapi juga dalam rangka memperjuangkan nasib warga lokal lain yang hingga saat ini belum bekerja. Terlebih kepada pekerjaan yang bisa mereka lakukan.
“Tuntutan kita, warga lokal diberi kuota 60 persen. Penjaringan terserah dari management perusahaan,” tandasnya.
Diketahui, warga lokal lima desa yang harus diutamakan antara lain Desa Wadung, Desa Rawasan, Desa Mentoso, Desa Beji, dan Desa Kaliuntu. Kesemuanya berada di Kecamatan Jenu.
Sebelumnya, aksi ini sedianya akan digelar oleh sejumlah security dari salah satu rekanan PLTU, yaitu Sinomarch China National Machinery Industri Corporation, SCP yang terancam di PHK karena hampir selesainya proyek pembangunan PLTU. (edp)
