SuaraBanyuurip.com – Ali Musthofa
Blora – Kekeringan yang melanda Kabupaten Blora, Jawa Tengah tak hanya menjadikan sebagian besar warganya kesulitan mendapatkan air bersih. Tapi  juga menyebabkan jumlah kebakaran rumah penduduk meningkat.Â
Tercatat dalam musim kemarau mulai Juli  hingga September ini telah terjadi sebanyak 20 kebakaran rumah penduduk. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun total kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta.
“Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu jumlah kasus kebakaran hanya 19 kejadian,” kata Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Blora, Sri Handoko, melalui Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Ignatius Ary Soesanto.
Pihaknya memperdeksi, kemarau tahun ini masih berlanjut. Karena itu diharapkan masyarakat lebih berhati-hati. “Jumlah kasus kebakaran sudah cukup tinggi. Kami meminta masyarakat waspada agar tidak sampai terjadi kebakaran lagi meski potensi kebakaran masih cukup tinggi,’’ ujarnya.
Berdasarkan data yang dimiliki Satpol PP, penyebab kebakaran sebagian besar karena konsleting listrik dan perapian yang menyambar pakan ternak berupa jerami.
“Mayoritas warga Blora dalam menyimpan Jerami tersebut tidak jauh dari perumahan warga. Jadi bila kesulut api, mudah menjalar ke rumah,‘’ papar Ignatius.
Selain itu, kebiasaan warga pedesaan dalam membuat bediang pengusir nyamuk dan lalat di kandang perternakannya juga menjadi penyebab timbulnya kebakaran. Apalagi mayoritas rumah warga terbuat dari kayu yang mudah terbakar.
“Awalnya  bediang atau perapian yang dibuat untuk mengusir nyamuk. Api kemudian menyambar jerami yang disimpan di sekitar rumah. Jadi, diminta warga tidak menyimpan jerami kering didalam kandang,” pungkas Ignatius. (ali)