RASA syukur bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menggelar sedekah laut sebagai simbul syukur atas anugerah Tuhan melalui hasil alam yang melimpah, Rabu (16/10/2013).
Di lokasi Pantai Utara (Pantura), tempat nelayan menggantungkan hidup, ratusan warga menggelar sedekah laut dengan membuat aneka bentuk makanan. Selain itu, warga membuat iring-iringan untuk mengarak kepala sapi yang telah mereka potong. Tak lupa  doa-doa diucapkan bersama dengan dipimpin oleh salah satu tetua mereka.
“Laki-laki sengaja tidak melaut, untuk menggelar sedekah laut,†terang Abdul Mu’in, salah satu panitia penyelenggara sedekah laut.
Setelah iringan berada di bibir pantai setempat, kepala sapi kemudian dipancang di salah satu sudut pantai. Sementara sesajian berupa nasi, ayam, bumbu tradisional, lengkap dengan aneka macam kembang dibawa menggunakan perahu untuk dilarung (ditengggelamkan) di tengah samudra.
“Orang tua bilang kalau kepala sapi yang dipancang itu disebut Mbah Mancung, sementara sesajian yang dibawa ke tengah laut disebut Bekakak,†jelas Abdul Muin.
Tradisi ini seperti mulai kehilangan ruh. Pasalnya, banyak generasi muda yang tidak mengetahui tradisi leluhur. Mereka hanya melakukan ritual ini, sekedar mencontoh apa yang dilakukan oleh moyang mereka.
“Kata orang tua seperti itu, kami hanya mengikuti,†jelas Abdul Muin.
Pemahaman mereka ritual ini sebagai ungkapan syukur, atas hasil tangkapan laut yang menghidupi mereka. Mereka meluangkan waktu untuk berkumpul dan bersyukur, akan menjadi tradisi yang mereka pertahankan.
“Sedekah laut atau tasyakuran ini sudah menjadii agenda rutin nelayan tiap tahun,†jelasnya.
Selain itu, mereka berharap agar laut selalu menjadi gantungan hidup mereka. Dengan kekayaan yang seolah tidak ada habisnya. Bahkan mereka berharap kalau tangkapan mereka pada tahun berikutnya akan terus bertambah.
“Kita berharap laut masih tetap menyimpan kekayaan untuk kami jadikan sandaran hidup,†pungkasnya. (edy purnomo)