Warga Wonocolo Gantungkan Hidup dari Sumur Tua

sumur tua

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro – Hampir keseluruhan warga Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menggantungkan hidup dari pengelolaan sumur minyak tua. Sebab lahan pertanian yang ada tak dapat diolah karena merupakan sawah tadah hujan.

Dari pantuan, ada sekira ratusan sumur minyak tua di wilayah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) yang ditambang secara tradisional oleh warga. Sumur minyak tua itu merupakan peninggalan zaman Belanda yang saat ini masih dikelola warga secara turun temurun.

Dari beberapa warga, seorang warga Wonocolo, Dwi, mengatakan, sudah bertahun-tahun warga mengelola sumur tua tersebut sebagai penghasilan setiap harinya. Karena sawah ladang yang dimiliki warga setiap ditanami tidak bisa tumbuh baik.

“Penghasilan yang didapat selalu merosot tidak sebanding dengan biaya tanam yang dikeluarkan,” kata dia tanpa menyebutkan berapa pendapatan yang pernah diperoleh mengolah ladangnya.

Dwi menceritakan, sudah lebih dari 30 tahun warga nekat untuk mengelola sumur minyak tua ini. Mereka melakukan penambangan dengn cara manual (tradisional) hingga menggunakan peralatan mesin seperti saat ini.

“Itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga setiap harinya,” sergahnya.

Wanita paruh baya itu menjelaskan, sumur tua yang ditambang itu kemudian diolah sendiri oleh warga menjadi bahan bakar mesin. Seperti solar gas dan lain-lain. Hasil produksi itu dijual melalui tengkulak eceran dan bahkan pengusaha asal luar daerah.

“Informasinya, harga per liternya untuk gas dijual pengecer bisa mencapai Rp 7000-8000. Namun, secara pastinya saya tidak tau persis, pak,” ucap Dwi.

Warga lain, Preti, mengaku, pengelolaan sumur minyak tua yang dilakukan warga sebenarnya belum memberikan keuntungan maksimal. Karena hasil yang didapat penambang dirasa hanya dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

“Dalam satu minggunya, penghasilan yang didapat antara satu juta rupiah hingga satu setengah juta rupiah,” jelasnya.

Wanita yang mengaku warga asal Senori, Kabupaten Tuban tersebut menambahkan, hasil dari pengelolaan sumur tradisional dijual kepada pengusaha luar daerah maupun pembeli pengecer biasa dari warga sekitar.

“Kalau tidak salah, ada 200 sumur tradisional lebih di sini  yang dikelola warga, Mas,” imbuh wanita yang juga salah satu pemilik sumur tradisional tersebut menerangkan.(sam)

Baca Juga :   Dewan Segera Rapatkan TKD di Blok Cepu dan J-TB

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *