Pemdes Malo Segera Bahas Sumur Minyak Tua

sumur tua

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Malo, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur segera membahas pengelolaan sumur minyak tua secara tradisional di wilayahnya secera internal. Hal itu, dikandung masud untuk mengantisipasi tentang dampak sosial maupun lingkungan dari penambangan sumur tua.

“Saya sudah memberikan masukan kepada pak lurah, terkait sudah diproduksinya sumur tua 45 secara tradisional untuk segera dimusyawrahkan,” kata Rifa’I, salah satu warga Desa Malo kepada suarabanyuurip.com, Rabu (23/10/2013).

Pria yang juga Kepala Urusan Kesejahteraan (Kaur Kesra) desa Malo itu menjelaskan, pembahasan secara internal itu untuk mencari solusi  dan menghindari tudingan miring dari warga jika Pemdes Malo menerima upeti dari penambang.

“Rencananya, musyawarah nanti akan melibatkan Badan Permudyawarahan Desa (BPD), perangkat, RT, RW dan tokoh masyarakat. Sekaligus, juga mendatangkan warga yang memproduksi minyak dari sumur tua agar kecemburuan sosial warga bisa terhindari,” jelasnya.

Dia menambahkan, musyawarah nanti juga akan membahas dampak lingkungan atas dimulai produksi sumur 45. Sebab  selama ini mayoritas warga Desa Malo sebagai petani sehingga dikawatirkn kegiatan penambangan itu akan memunculkan dampak lingkungan pada saat musim penghujan.

Baca Juga :   Keamanan Jalur Menuju JTB Perlu Ditingkatkan

“Jangan mendapatkan bagian, diajak komunikasi saja belum. Intinya mencari solusi yang terbaik agar di Desa Malo nantinya tidak muncul sebuah masalah,” kata Rifa’i.

Dikonfirmasi terpisah, Camat Malo, Dendy, mengatakan, dari 20 Desa di wilayah Kecamatan Malo sekitar lima Desa yang wilayahnya terdapat pengolahan minyak tradisional dari sumur tua tersebut. Yakni, Desa Kedungrejo, Tinawun, Trembes, Malo dan Sukorejo.

“Sampai saat ini bagi warga pengelola sumur tua itu belum ada yang melakukan koordinasi dengan pihak Kecamatan, Mas. Jadi saya belum bisa memberikan kemontar terkait sumur tua yang dikelola warga itu secara rinci,” tegas Dendy ketika ketika dihubungi via telepon, Rabu (23/10/2013).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sumur tua yang dikelola Karnadi tersebut dalam setiap harinya mampu mengahasilkan 1400 sampai 1500 ton minyak mentah. Produksi minyak itu dijual ke Pertamina melalui Universitas Pembangunan Nsional (UPN) Jokjakarta seharga Rp 3000 per liter. Jadi, jika per liternya Rp 3000 maka dalam satu harinya Karnadi memperoleh pendapatan kotor senilai Rp 4,5 juta.(sam)

Baca Juga :   Pertamina EP Asset 4 Klaim Prioritaskan Konten Lokal

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *