Infrastruktur Minim, Mayoritas Warga Buruh Tani

kawengan

Minyak mentah dari sumur Kawengan pada waktu itu dikelola Perusahaan Minyak dan Gas Negara (PERMIGAN). Perusahaan yang dibuat Indonesia untuk menasionalisasi aset-aset Migas era pemerintahan Presiden Soekarno. Usai hengkangnya Belanda untuk kedua kalinya dari tanah air.

Pengakuan Sudarno (63), salah satu warga Desa Banyuurip yang bekerja di perminyakan sejak tahun 1969 lalu. Kalau Kawengan, usai penjajahan Belanda dikelola oleh beberapa perusahaan atau lembaga bentukan Indonesia sendiri, sebelum di ambil alih oleh Pertamina pada kisaran tahun 1988 lalu.

“Sudah banyak yang mengelola minyak disini,” kata Sudarno, ketika ditemui di kediamannya.

Sudarno menceritakan, pada tahun 1969 bekerja disana dirinya dibawah naungan Pusat Pendidikan (Pusat Pendidikan) Migas, saat itu lapangan Kawengan digunakan sebagai pusat pendidikan Migas di Indonesia. Dua tahun berselang, lapangan tersebut dikelola oleh Perusahaan Perminyakan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPTMGB) pada tahun 1970. Sudarno, yang melakoni pengabdian di sektor ini secara turun temurun pun ikut merasakan perubahan manajemen.

Selanjutnya, pengelolaan minyak mentah ditempat tersebut berganti menjadi Lembaga Minyak dan Gas (LEMIGAS) pada tahun 1972, dan kembali berganti PPT Migas pada tahun 1974. Selanjutnya, di ambil alih Pertamina pada tahun 1988 hingga sampai sekarang.

“Desa Banyuurip benar-benar menjadi desa yang ramai, banyak warga yang ikut bekerja di perminyakan. Lampu-lampu menerangi semua jalan dan sudut desa. Saat malam pun masih banyak yang beraktifitas,” ungkap Sudarno, mengenang kejayaan Desa Banyuurip, sebagai sentral lapangan Kawengan.

Saat dia bekerja, ada sekitar 129 sumur yang diolah. Menyebar di Desa Banyuurip dan Desa Wonosari (Kabupaten Tuban) dan jga Desa Mudal dan Desa Kadewan (Kabupaten Bojonegoro). Selama bekerja, Sudarno mendapat kepercayaan untuk melakukan pengawasan di 7 Stasiun Pengumpul (SP) Kawengan. Serta memastikan pengiriman dari SP ini ke Stasiun Pengumpul Utama (SPU) yang ada di Menggung, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Melalui pipa-pipa yang disambungkan dari sumur ke masing-masing SP.

“SPU Menggung ini membawahi tiga lapangan, yaitu lapangan Nglobo, lapangan Kawengan, dan lapangan Ledok,” ujarnya, menerangkan.

Baik Rusdi maupun Sudarno berpendapat sama. Kalau pada masa-masa ini, dampak yang dibawa industri minyak di tempat tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. Pekerja, yang memang didominasi masyarakat sekitar bisa membaur menjadi satu dengan perusahaan. Selain itu, pekerja yang penduduk asli setempat selalu berusaha untuk membuatkan lapangan pekerjaan kepada penduduk yang belum bisa bekerja.

“Dulu bekerja mudah, ada sistem Jawilan (borongan) untuk memperbaiki sumur yang rusak, kalau sekarang terlalu banyak persyaratannya,” kata Sudarno.

Kondisi sekarang dengan tempo dulu jauh berbeda. Kalau dulu, semua pekerja perminyakan akan membaur bersama masyarakat. Kalau sekarang, mereka menilai kalau pekerja tidak ada lagi yang berbaur dengan masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya gesekan-gesekan antara perusahaan dengan masyarakat.

“Sekarang orangnya muda-muda, pendidikan tinggi, tapi entah kenapa kok tidak bisa berbaur dengan masyarakat seperti dulu,” jelasnya.

Selain itu, keadaan desa mereka saat ini tidak seramai dulu. Hanya menyisakan kebisingan. Sementara para pemuda, lebih memilih untuk merantau dan bekerja ke berbagai kota besar di Indonesia. Sementara infrastruktur berupa jalan dan fasilitas umum juga sudah mulai rusak.

“Keadannya jauh dengan sekarang,” tandas Sudarno.

Kondisi sekarang, menurut Sekretaris Desa (Sekdes) Banyuurip, Abdul Haris, kepada SuaraBanyuurip.com, bahwasanya desa tersebut sangat membutuhkan perbaikan infrastruktur. Menurut dia, perusahaan belum pernah memberikan bantuan atau intensif infrastruktur secara penuh.

“Kalau misal kita butuh dana 60 juta untuk buat tempat ibadah, kita hanya disumbang sebanyak 5 juta saja,” ujar Haris.

Desa Banyuurip sendiri saat ini terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Banyuurip dan Dusun Jangur. Dengan jumlah penduduk sekitar 2.463 jiwa. Terdiri dari 1.180 laki-laki dan 1.283 perempuan.

Selama ini, warga desa setempat banyak yang berprofesi sebagai buruh tani. Disamping pekerjaan lain seperti buruh bangungan, tukang, maupun dengan menjadi pesanggem dilahan milik Perhutani. Sementara yang bekerja di perusahaan sebagai pekerja kontrak jumlahnya 30 hingga 40 orang saja.

“Yang mempunyai status pekerja tetap hanya 1 orang saja,” jelas Haris.

Pemuda Desa Banyuurip saat ini jarang yang tinggal di desa mereka. mereka lebih memilih untuk mengadu nasib dengan merantau di kota besar, seperti Surabaya maupun Jakarta. Karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang bisa mereka dapatkan di tanah kelahiran.

Penuturan Haris, tingkat pendidikan di desa ini beragam. Terbanyak adalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Banyak juga pemuda desa setempat yang melanjutkan pendidikan hingga ke Perguruan Tinggi (PT).

“Tapi banyak pemuda yang merantau ke kota besar,” tambahnya.

Haris juga berharap, perusahaan mengalokasikan dana Coorporate Social Responsibility (CSR) untuk beberapa potensi lokal yang ada di desa setempat. Salah satunya adalah potensi peternakan milik warga. karena selama ini warga hanya beternak sebagai pekerjaan sampingan saja, tanpa memiliki kepentingan ekonomis.

“Sapi di desa kami tercatat 900 sapi, semuanya milik warga desa,” kata Haris.

Untuk itu, dia berharap pelatihan yang pernah diberikan kepada masyarakat tentang pertanian dilanjutkan. Terutama untuk mengatasi permasalahan pakan yang sulit dimusim kemarau.

Menelusuri Desa Banyuurip, kita akan disuguhi banyaknya bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Tak hanya itu, kita juga akan disuguhi pemandangan sumur angguk dengan merek Tomason peninggalan Belanda. Serta banyaknya pipa-pipa bekas dan keran-keran yang dahulu digunakan untuk mengalirkan minyak mentah dari sumur menuju stasiun pengumpul.

Desa Banyuurip dan lapangan Kawengan mempunyai cerita panjang. Menjadi saksi kekejaman penjajahan terhadap nenek moyang. Tak hanya itu, tempat ini mempunyai peranan penting dalam sejarah perminyakan nasional.

Karena lapangan Kawengan, sebagai penunjang kilang Cepu, merupakan salah satu sumur tua setelah kilang Wonokromo, yang dibangun setelah temuan minyak di daerah konsesi Jabakota dekat Surabaya, dan kilang Pangkalan Brandan, yang dibangun untuk mengelola Crude dari Sumatera Bagian Utara.(edy purnomo)

Baca Juga :   Pemuda Desa Asal Bojonegoro ini Sukses Budidaya Kopi di Pekarangan Rumah

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *