SuaraBanyuurip.com -Â
Bojonegoro- Kasus keteledoran operasi usus buntu yang dialami, Anggar Putra Negara (9), asal Jalan Pemuda Kecamatan Kota Bojonegoro oleh salah satu RS swasta pada 26 September 2013 lalu, menjadi tamparan keras bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro.
Bagaimana tidak, RS yang seharusnya memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasiennya ternyata gagal. Bahkan, tidak hanya terjadi sekali saja, RS di Surabaya sebagai tempat rujukan pasien pun mengaku bosan dengan kasus-kasus operasi yang dinilai gagal. Padahal hanya operasi kecil seperti usus buntu yang dialami putra Moh Subeki tersebut.Â
Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Hariono, mengatakan, pihaknya telah banyak mendapatkan laporan mengenai kegagalan operasi para pasien yang ditangani dokter di RS swasta tersebut. Semua masukan baik kritik maupun saran akan memotivasi jajarannya untuk bekerja lebih giat lagi dengan membenahi kegagalan-kegagalan tersebut.
“Diintern RS sudah ada tim pengawas internal atau internal medic. Kalau ada hal-hal yang tidak sesuai dengan pelayanan medik akan ditindaklanjuti,” sergahnya.
Dia mengatakan, apa yang menimpa Anggar Putra Negara akan dikomunikasikan dengan jajaran RS baik swasta maupun milik pemerintah, bahwa sudah seharusnya untuk ditindaklanjuti demi kebaikan bersama. Karena sadar kesehatan salah satu hal yang sangat penting.
“Kalau sehat akan mempengaruhi produktivitas manusia,” tukasnya.
Sementara itu, Bupati Suyoto, menyatakan kasus ini jadi perhatian serius karena dulu ketika rakyat tidak mengerti tentang standar kesehatan sudah dianggap bagus. Pihaknya telah memanggil Direktur RSUD Sosodoro Jatikusumo, dan Dinas Kesehatan untuk menghitung seluruh institusi layanan kesehatan yang bisa diberikan.
“Saya akan perintahkan untuk menyekolahkan dokter-dokter spesialis, minimal 10 orang ke luar negeri,” tegasnya.
Selama disana akan dibiayai dari dana APBD, sehingga 4-5 tahun saat lulus nanti Rumah Sakit yang ditempati akan lebih bagus. Selain itu juga fasilitas RSUD Sosodoro Jatikusumo akan dperbaiki. (rien)