16 Orang Penderita Tak Selamat

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Dalam kurun tiga bulan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ditemukan sebanyak 16 orang meninggal akibat terkena serangan demam berdarah (DB). Jumlah tersebut bagian dari 788 kasus DB sepanjang bulan Juli hingga September 2013 yang tak terselamatkan.   

Selain DB sejak bulan Oktober lalu di bumi Angling Dharma juga terdeteksi adanya serangan virus Chikungunya. Sebanyak 79 orang terkena virus yang bikin tubuh loyo tersebut. Kasus ini terjadi di Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro menyebut, dalam kurun tiga bulan terakhir, jumlah pasien yang meninggal karena DB mengalami peningkatan. Pada bulan Juli 2013 ada 259 kasus demam berdarah dengan empat orang meninggal. Bulan Agustus, dengan jumlah kasus 263 kasus, meninggal dunia enam orang.

“Sedangkan pada bulan September 2013 ada 266 kasus, dan meninggal dunia enam orang,” ungkap Kasi Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinkes  Bojonegoro, dr Whenny Dyah P, Jumat (08/11/2013).

Baca Juga :   Enceng Gondok Mampu Kurangi Polutan Air

Dia ingatkan, memasuki masa peralihan musim masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap pertumbuhan virus yang dibawa nyamuk. Salah satunya yaitu virus chikungunya dan demam berdarah.

“Awal musim hujan itu biasanya sudah ada jentik yang tumbuh,” ujar Whenny.

Virus Chikungunya relatif sulit terdeteksi, sehingga penderita yang terdata pun masih minim. Dinkes sepanjang bulan Oktober 2013 baru menemukan pasien yang terdeteksi penyakit virus chikungunya sebanyak 79 orang. Mereka dari Desa Butoh.

“Karena saat ini kebanyakan masih belum ada alatnya, sehingga diagnosa pasti penanda virus tidak pernah ditemukan. Yang pasti hampir sama dengan virus demam berdarah,” lanjutnya.

Whenny menambahkan, untuk menandai terjangkitnya virus chikungunya ini biasanya pasien menderita batuk pilek, demam hingga dua sampai tiga hari, nyeri otot penyangga berat badan, bengkak otot persendian, bercak kemerahan pada kulit, dan paling parah pasien bisa sampai kejang dan penurunan imun.

“Biasanya lumpuh sesaat karena virus menyerang imun atau kekebalan tubuh,” jelasnya.

Virus chikungunya ini tidak begitu berbahaya jika dibanding dengan virus demam berdarah. Sebab  demam berdarah bisa sampai menyebabkan pasien meninggal dunia. Kedua virus ini berkembang saat musim penghujan khususnya digenangan air yang tenang dan bersih.

Baca Juga :   Pejabat Pelayan Publik Cepu Disuntik Vaksin Covid-19

“Perkembangannya di tempat air yang bersih dan tenang, misalnya seperti di pagar bambu yang ada airnya itu juga bisa,” terangnya.

PIhaknya menghimbau kepada masyarakat, agar lebih waspada saat musim penghujan dengan cara terus melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan 3M (menguras, menutup, dan mengubur).

“Selain itu kita juga melakukan fogging jika ada laporan yang terindikasi,” pungkasnya. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *