Disperta Berharap CSR Pertanian

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro- Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur meminta kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) migas yang melakukan kegiatan di wilayahnya untuk memprioritaskan program coorporate social responsibility (CSR) di bidang pertanian. Karena selain mayoritas masyarakat Bojonegoro bertani, juga untuk mendukung program lumbung pangan negeri.

“Setahu saya belum pernah ada,” tegas Kepala Disperta, Achmad Djupari kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (12/11/2013).
Padahal di Bojonegoro sendiri terdapat lima K3S. Yakni operator migas Blok Cepu, Mobil Cepu Limited (MCL), operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), operator sumur Tiung Biru (TBR), Pertamina EP Asset 4, Operator Unitisasi Gas Jambaran – TBR (JTB), Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), dan Blok Blora, Sele Raya Energi (SRE).

Namun selama ini, lajut Djupari,  operator  belum pernah mengajak Disperta kerja sama untuk pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian.

“Jika memang ada saya akan meminta agar program CSR difokuskan untuk tanaman holtikultura,” sergah mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro ini.

Baca Juga :   PJU Puduk Sudah Menyala

Menurut dia, program CSR itu bisa diberikan dengan pemberian bimbingan kepada petani sampai berhasil memproduksi hasil pertanian. Karena itu, semua K3S bebas memilih klaster mana yang dituju.

“Yang pasti program CSR tersebut harus untuk Off farm dan on farm bagi petani,” pungkas Djupari.

Pada bagian lain, Rektor Universitas Proklamasi (UP) 45 Yogyakarta, Dawam Rahardjo, menilai, program CSR yang digulirkan operator migas di Bojonegoro sekarang ini lebih pada kebutuhan konsumtif. Bukan pada ekonomi kerakyatan untuk ketahanan pangan.

“Seharusnya CSR yang dilaksanakan sesuai dengan karakteristik masyarakat dan wilayah. Seperti bidang pertanian atau tanaman hortikultura yang diikuti dengan pengolahannya. Itu akan menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” sambung Dawam usai memaparkan konsep terapan tehnologi dalam mendukung produksi pangan di Bojonegoro. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *