Pusat Pemerintahan Tuban Dipindah

kirap-2

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Suasana terlihat ramai di Pendapa Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Selasa (12/11/2013). Bupati Tuban, Fathul Huda, disertai dengan Wakil Bupati, Noor Nahar Hussein, dan sejumlah anggota Forum Pimpinan Kepala Daerah (Forpimda) Kabupaten Tuban terlihat berkemas dari pendapa.

Selain Bupati dan Forpimda, tampak juga masing-masing kepala Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kabupaten Tuban, dan 20 orang camat yang ada di Tuban. Mereka baik Bupati hingga camat terlihat didampingi oleh istri masing-masing.

Setelah semua siap, mereka terlihat menaiki delman yang sudah bersiap di depan pendapa. Terhitung saat itu tak kurang dari 50 delman yang membawa rombongan Bupati bersama dengan pejabat-pejabat penting yang ada di Tuban.

Sebelum menaiki kendaraan bermesin kuda, mereka terlihat merapal doa. Sebelumnya, Bupati Tuban juga melakukan tirakatan dengan menginap di pendapa Kabupaten Tuban lama,  di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban.

Salah satu rangkaian Hari Jadi ke 720 Tuban ini, seperti memutar memori peristiwa besar ratusan tahun silam. Dimana pusat pemerintahan Tuban yang awalnya berada di kawasan di Desa Prunggahan Kulon dipindah ke Pendapa Krida Manunggal, yang hingga sampai saat ini kita ketahui berada di sebelah timur Alun-alun kota Tuban.

Baca Juga :   Menkes Terbitkan SK Protokol Kesehatan Fasilitas Umum, Pengelola Wisata Bojonegoro Tunggu Kepastian

“Ini untuk mengenang kejadian penting ratusan tahun silam,” terang Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tuban, Sunaryo, kepada SuaraBanyuurip.com.

Setelah semua berada di atas masing-masing delman, mereka kemudian bersama menuju ke Pendapa Kabupaten yang berada di tengah pusat kota. Selama perjalanan, beberapa masyarakat dan pelajar terlihat berkerumun untuk mengenang berpindahnya pusat kepermintahan yang baru.

“Kenapa dikirab? Karena memang saat itu pimpinan Tuban bersama masyarakat berbondong-bondong untuk berpindah ketempat yang baru,” jelas Sunaryo.

Sesampai berada di Pendapa Krida Manunggal, rombongan Bupati disambut dengan sejumlah remaja putri penari Bedoyo, Tari Bedoyo, merupakan satu tari-tarian penyambutan di lingkungan kerajaan pada masa itu.

“Kita sambut dengan tari Bedoyo, tarian yang berasal dari lingkungan kerajaan,” tambah Naryo, mantan seniman tari ini.

Selain Bedoyo, juga disambut dengan gunung-gunungan atau tumpeng yang berasal dari hasil pertanian. Disertai dengan deretan pelajar yang mengenakan kostum petani, nelayan, dan sejumla profesi masyarakat Tuban seperti itu.

Prosesi kirab kemudian ditutup masuknya Bupati, Wakil Bupati, Forpimda, Kepala SKPD, dan camat kedalam pendopo. Disana sudah menanti sejumlah tamu undangan yang berasal dari tokoh masyarakat, anggota DPRD Tuban, dan semua Kepala Desa di Tuban. Disinilah, kemudian sejarah singkat kota Tuban dibacakan oleh Ketua DPRD Tuban, Kristiawan, kepada para hadirin yang berada di dalam pendopo.

Baca Juga :   Akan Jadikan Blora Tujuan Geowisata

“Intinya kegiatan kirab ini, untuk mengenang berpindahnya pusat kepemerintahan disini. Karena memang untuk mencari tempat yang lebih strategis dalam menjalankan roda kepemerintahan,” jelas Sunaryo.

Ditanya mengenai sejak kapan pusat kepemerintahan ini berpindah. Sunaryo tidak menjawab, hanya mengatakan kalau saat ini masih ada beberapa versi yang membahas masalah ini. hanya saja, perpindahan tempat ini juga berdasarkan pada tradisi lisan yang berkembang dimasyarakat.

“Masih ada beberapa versi, selama ini hanya tradisi lisan,” terangnya. (edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *