Bappeda Kaji Tekhnologi Industri Pertanian UP45

rektor UP 45

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro- Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur  untuk mewujudkan lumbung pangan dan energy negeri. Salah satunya mengundang Universitas Proklamasi 45 (UP 45) Jurusan Tekhnologi Industri pertanian untuk bertukar pikiran meningkatkan produksi pangan di daerah Bojonegoro.

Kepala Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembanggunan Daerah (Bappeda), Eryan Dewi, mengatakan, dari paparan UP45 ada beberapa tekhnologi-tekhnologi dan terobosan-terobosan di bidang pertanian dan juga energy yang ditawarkan kepada pemkab Bojonegoro.  Namun, Bappeda akan mempelajari terlebih dahulu konsep yang ditawarkan tersebut. 

“Kita masih mengakaji konsep-konsep yang ditawarkan. Karena metode ini tidak seperti biasanya sehingga tidak konvensional dengan kondisi di lapangan,” kata Eryan kepada suarabanyuurip, Rabu (13/11/2013).

Sebelumnya,  Rektor UP45, Dawam Rahardjo, mengatakan, dengan tergerusnya lahan pertanian di Bojonegoro akibat industri migas maka daerah harus memanfaatkan dana dari proyek migas untuk mengembangkan usaha-usaha kerakyatan yang sesuai dengan karakteristik Bojonegoro.

“Banyak yang bisa ditingkatkan disini, peternakan, pertanian holtikultura, dan perikanan,” kataDawam usai memaparkan konsep tehnologi industri pertanian kepada Bupati Bojonegoro Suyoto dan pejabat di lingkup pemkab serta kontraktor kontrak kerja sama (K3S) Migas.

Baca Juga :   KASAD Hadiri Panen Raya di Kedungtuban

Pria berusia lanjut itu menyatakan, kesejahteraan petani di Bojonegoro dapat meningkat dengan penerapan tehnologi pertanian. Sebab produksi tanaman yang dihasilkan dapat meningkat berkali lipat dari hasil sebelumnya.

“Disini Pemkab harus berperan aktif untuk menerapkan tekhnologi tersebut kepada masyarakat,” tandasnya.

Sebab, lanjut Dawam, untuk mendukung itu diperlukan biaya yang tidak sedikit. Namun sulit bagi masyarakat secara langsung mendapatkan modal dari perbankan. Satu-satunya jalan dengan menggunakan bank social melalui dana Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari operator yang beroperasi saat ini.

“Jadi CSR itu langsung digunakan untuk membiayai proyek pertanian ini.  Nanti jika sudah mendapatkan hasil dan keuntungannya baru disimpan di Bank Sosial sebagai Modal,” ujar Dawam, menerangkan. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *