Tantangan Mewujudkan Lumbung Energi Ramah Lingkungan

jambaran

WARUNG makan sederhana di depan pintu masuk Lapangan Gas Jambaran masih berdiri. Pemiliknya bertahan walau proyek di lapangan gas itu belum jelas kapan dimulai lagi.  Sepi begitu akrab dari lingkungan warung ini.

Entah apa yang menjadikan, Suhartini, pemilik warung, bertahan di tengah sepinya pembeli di lapangan gas di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tersebut. Sementara rekan seprofesi yang membuka warung sudah pindah ke lapangan minyak Banyuurip, di Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, sejarak 3 Km dari Bandungrejo.

“Banyak yang boyong  (pindah-Red) ke proyek Banyuurip, kan disana proyeknya sudah mulai,” kata Suhartini saat ditemui di warungnya.     

Mbak Har, demikian warga desa setempat ini biasa disapa pelanggan warungnya, menyatakan, dirinya tak tertarik memindah warungnya ke lokasi proyek Banyuurip karena hanya ingin bertahan saja di Jambaran. Dia meyakini pula satu saat nanti lapangan gas Jabaran bakal seramai Banyuurip. Kalau pun saat ini kondisinya seperti mati suri, namun saatnya nanti dipercaya bakal kembali ramai.

Suhartini bersama warungnya memang setia pada lapangan gas Jambaran. Terlebih sudah 10 tahun lebih dia berjualan disana, tentunya bersama warga lain yang membuka warung. Kalau pada akhirnya hanya dia yang bertahan itu adalah pilihan yang diyakininya benar.

Lapangan gas Jambaran memang lagi tak ada kegiatan eksplorasi.  Sebelumnya memang ada pekerja di sana, hingga warga desa setempat pun beramai-ramai membuka jasa warung makan. Mereka menjaring tetesan rejeki dari pekerja disana.  Namun, karena kegiatan proyek tak ramai, warung pun satu demi satu tutup, atau boyong ke lokasi proyek Banyuurip yang masuk wilayah ladang Migas Blok Cepu.   

Setelah cukup lama sepi kegiatan di lapangan gas Jambaran, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyepakati Plan Of Development (PoD), rencana pengembangan proyek Gas Cepu pada tanggal 13 Februari 2013 lalu. Pertamina EP Cepu (PEPC) ditunjuk sebagai operatorship untuk mengelola lapangan gas Jambaran yang sebelumnya dikuasai oleh Mobil Cepu Ltd (MCL).

Proyek Gas Cepu bermuara di lapangan gas Jambaran, tak jauh dari lapangan minyak Banyuurip. Kebetulan sebagian dari wilayah Kecamatan Gayam tercakup di dalamnya. Dari lapangan Jambaran terhubung ke Lapangan Tiung Biru (TBR) dengan jarak sekitar 12 km meretas alam. Namun, letaknya agak membentang ke barat. Tepatnya berlokasi di Kecamatan Tambakrejo, dan Kecamatan Purwosari di Kabupaten Bojonegoro.  

Proyek ini disebut unitisasi lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) karena secara geologis, masih berada dalam satu lempengan. Unitisasi lapangan JTB diintegrasikan dengan lapangan gas Cendana di Desa Cendana, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Dari lokasi TBR, membentang lagi ke arah barat wilayah Bojonegoro sekitar 15 km, berdekatan dengan Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Hanya saja, Lapangan Cendana tetap dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL).

Di dalam perut bumi wilayah ini tersimpan cadangan gas bumi. Data dari dokumen Analisa Mengenai Dampak  Lingkungan (Amdal) proyek ini menyebut, total sumur Unitisasi Jambaran-Tiung Biru (TBR) dan terintegrasi Lapangan Cendana ada 14 sumur. Delapan sumur di Lapangan Jambaran-TB,R dan enam sumur di Lapangan Cendana.

Baca Juga :   Illegal Drilling Marak, SKK Migas Perkuat Kerja Sama dengan Aparat Keamanan

Jumlah kumulatif produksi akan dihasilkan kondensat sebesar 18.63 Milion Stock Tank Barrels (MMSTB) dengan laju produksi puncak kondesat 3.082,81 Barel Oil Per Day (BOPD) pada tahun 2018. Sementara jumlah kumulatif Gas sebesar 1.233,56 Bilion Standard Cubic Feed (BSFC), dengan laju produksi plateau gas sebesar 185.22 Million Standard Cubic Feet Day (MMSCFD) selama 19 tahun.

Potensi alam dalam studi Amdal yang disosialisasikan Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) kepada publik di desa sekitar memang mengagetkan.  Namun demikian tak menjadikan warga tak bergeming, karena mereka hanya bisa menunggu kapan proyek gas Cepu itu dimulai.

“Kami menunggu sambil berharap, sapa tahu saat proyek dimulai diberi pekerjaan,” kata sejumlah pemuda saat ditemui tengah nongkrong di warung kopi desa setempat.

Kondisi alam di sekitar lapangan gas tersebut pun masih seperti dulu. Sepi belum banyak terjamah pembangunan. Nuansa khas pedesaan cukup melekat. Begitu pula alamnya. Hijau daun pepohonan masih alami. lokasinya sunyi dan sepi.

Hanya ada beberapa security yang sedang bertugas menjaga. Suara kicau burung sambil berterbangan kesana kemari kerap terdengar. Sesekali hilir mudik warga sekitar melintas. Sebagian menggembala kambing, dan sebagian lagi bercocok tanam.

Bertolak belakang dengan warga desa sekitar, para petinggi di Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur sangat mafhum akan proyek Gas Cepu. Termasuk pula detail skenario dari proyek multinasional tersebut.  

Tidak lama lagi proyek Gas Cepu akan menjadi primadona baru di tengah buaian ingar bingar industri Migas di Bumi Angling Dharma, Bojonegoro. Keberadaan proyek Gas Cepu seolah menegaskan, jika Bojonegoro telah dikepung oleh lumbung–lumbung energi Migas. Sebagai bentuk apresiasi, belum lama ini Pemkab Bojonegoro yang dipimpin Bupati Suyoto membuat jargon; “Lumbung Pangan dan Energi Negeri”.

Proyek energi berbahan fosil membutuhkan lahan seleluasa mungkin. Tentunya, bersamaan itu pula ladang persawahan akan terkikis. Hutan lindung pun terancam tak bisa lagi jadi pelindung. Masyarakat sekitar berharap, perusahaan dapat memberi dampak positif. Selain perekonomian, tentu linkungan sekitar.

PEPC selaku operatorship diharapkan komitmennya menjawab keasrian lingkungan agar senantiasa lestari. Persoalan lingkungan seperti kerap terkebiri ditengah riuh kegiatan proyek tambang.

CSR Metabolisme Lingkungan

Hubungan manusia alam dapat dimaknai pada penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR). PEPC menyematkan program lingkungan dari empat pilar tanggung jawab sosial perusahaanya. Kepedulian lingkungan tak ubahnya metabolisme lingkungan,  dan sebagai upaya mengurangi beban ekologis bagi generasi mendatang.

“Kita konsen pada pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, dan juga lingkungan,” kata juru bicara PEPC, Edy Purnomo, beberapa waktu lalu.

Dia menegaskan, penerapan lingkungan di dalam bagian program CSR merupakan bentuk kepedulian Pertamina terhadap lingkungan. Namun pada intinya, PEPC tetap berkeinginan melaksanakan semua empat pilar programnya secara beriringan.

Upaya pelestarian lingkungan justru telah dilakukan Pertamina Asset 4 Cepu, di wilayah sekitar Lapangan TBR dengan melakukan penanaman pohon. Legal dan relations PEP Asset 4, Arya Dwi Paramita, mengungkapkan, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk concern dan program khusus dari semua anak usaha Pertamina.  

“Diseluruh Indonesia Pertamina menargetkan penanaman 200 ribu pohon, 40 ribu diantaranya di PEP Asset 4 Cepu,” kata dia menjelaskan.

Arya menilai, penanaman pohon tentunya bisa berdampak positif terhadap lingkungan. Khususnya di wilayah kerja PEP Asset 4 beroperasi. “Kegiatan ini misi dari kami, namun soal Jambaran bukan operasional kami,” ujarnya.

Baca Juga :   Berharap SPBU Khusus Petani

Mengenai kandugan CO2, menurut dia, merupakan faktor eksternalitas dari industri migas. Tidak hanya terbatas pada gasnya saja. Emisi CO2 bisa muncul dari setiap aspek kegiatan apapun yang menggunakan bahan bakar termasuk migas dan banyak faktor.

“Bisa dari pembakaran bahan bakar, kendaraan mesin, genset, dan lain-lain,” tutur Arya.

Skenario Ramah Lingkungan

SKK Migas pun menegaskan, jika proyek Gas Cepu sedari awal tidak ingin kelestarian lingkungan tercemari. Lingkungan harus tetap dipertahan agar bsia menjadi warisan anak cucu kelak.

Kasubdin Fasilitasi Keselamatan Kerja dan lingkungan SKK Migas, Kosario MK, mengatakan, Project Gas Cepu membutuhkan skenario yang ramah lingkungan.

Diperkirakan 30 persen CO2  terkandung dalam perut bumi selain gas alam. Disaat produksi tiga lapangan tersebut dilakukan, akan ada pengotor yang harus dipisahkan.

“Karena cadangan gas yang ditemukan tidaklah murni gas alam. Bisa berupa H2S atau juga CO2,” katanya kepada suarabanyuurip.com belum lama ini.

Sehingga, lanjut dia, gas pengotor itu harus disisihkan dari gas alam yang akan dijual ke pelanggan, dan diolah lebih lanjut supaya tidak membahayakan lingkungan sekitarnya. Sedangkan, gas CO2 yang sudah dipisahkan dari gas alam, dapat dilepas ke alam atau atmosfer yang kemudian akan diserap tumbuhan di siang hari untuk proses fotosintesis.

Namun demikian hal itu justru akan meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. “Karena itu pembuangan gas CO2 harus diimbangi kemampuan penyerapannya oleh tumbuhan,” papar Kasario.

Hanya saja, untuk di lapangan JTB sekarang ini dinilai masih kurang untuk penyerapan gas tersebut. Terkait skala operasi lapangan Tiung Biru, dibutuhkan cakupan luas tumbuhan seluas Kabupaten Bojonegoro, untuk menyerap gas yang dilepas ke udara.

“Oleh karena itu butuh skenario operasi yang lebih ramah lingkungan,” tandasnya.

Menurut Kasario, dari sisi bisnis perminyakan, lapangan TBR dapat diproduksikan dengan lebih ramah lingkungan dengan cara menginjeksikan gas CO2 kembali ke perut bumi. Karena itu injeksi tersebut rencananya akan diarahkan ke Lapangan Cendana lantaran dianggap memiliki cadangan yang lebih kecil. Karena pertimbangan ini pula yang menjadi alasan Lapangan Cendana akan dioperasikan lebih awal dari unitisasi Lapangan JTB.

Pengerjaan proyek ini melibatkan Pertamina EP (PEP) Asset 4, MCL-Ampolex, PEPC, dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang masuk dalam Badan Kerja Sama (BKS) Participating Interest (PI) Blok Cepu.

Khusus dilapangan TBR, 100 persen sahamnya dikuasai PEP Asset 4 Cepu. Sedangkan Jambaran dan Cendana MCL-PEPC masing-masing memiliki saham 45 persen dan sedangkan 10 persen dimiliki BKS PI Blok Cepu.

Warga sekitar tak tahu secara pasti, kapan proyek Gas Cepu ini dimulai. PEPC maupun K3S lain yang terlibat pun belum membuka suara. Mereka berharap jika proyek berjalan, bisa ikut menikmati pekerjaan disana.

Pula dengan Mbak Har, pemilik warung. Dia masih bertahan dengan warungnya menunggu pembeli. Dia pun merindukan kapan proyek gas ini dimulai sehingga denyut kehidupan warungnya kembali terasa. (athok moch nur rozaqy)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *