Tetap Bertahan Ditengah Gerusan Zaman

pande

Saat ini, pande besi atau pembuat peralatan pertanian tradisional langka sekali. Namun di Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, perajin itu masih tetap eksis, meski jumlahnya turun drastis.

Desa berpenduduk 3.018 jiwa ini sejak lama telah dikenal sebagai kampung pande besi. Di tempat ini beragam peralatan pertanian tradisional diproduksi. Mulai dari sabit, cangkul, garuk dan lain-lainnya.

Pembuatan peralatan pertanian tradisional itu sudah mulai ditekuni warga Desa Kedaton sejak 1918 silam. Hampir semua kepala keluarga (KK) di tempat ini dulunya menjadi pande besi. Namun dari pande besi yang ada, tidak ada satu pun yang tahu secara pasti siapa yang pertamakali membuat peralatan pertanian tradisional tersebut. Mereka hanya meneruskan usaha itu secara turun temurun.

“Saya ini hanya melanjutkan apa yang dulu dilakukan mbah-mbah saya,” kata Masrum, salah seorang pande besi kepada suarabanyuurip.com, Selasa (19/2013).

Dalam menjalankan usahanya itu, Masrum hanya dibantu isterinya, Sriyatun. Dalam sehari keduanya mampu membuat  alat pertanian itu sebanyak 50 -100 biji berupa garuk dan cangkul kecil.

Semua produksinya itu sudah pesanan para penjual dari berbagai daerah seperti Kabupaten Tuban, Lamongan hingga Blora, Jawa Tengah. Dalam sehari keluarga sederhana itu mampu meraup keuntungan bersih antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Usaha ini pun menjadi penopang hidup mereka.

“Kalau ramai pesanan seperti ini sampai kuwalahan, Mas. Kita harus mulai aktifitas pagi pukul 06.00 wib,” sergah Sriyatun, mengungkapkan.

Bagi keluarga Masrum dan Sriyatun, membuat kerajian yang dibutuhkan petani memiliki kebanggan tersendiri. Karena peralatan ini banyak dibutuhkan dan membantu petani. Apalagi saat ini para pande besi di Desa Kedaton tidak terlalu kesulitan memproduksi karena rata -rata mereka sudah menggunakan peralatan semi tradisional.

Peralatan yang digunakan antara lain palu, supit besi, blower (pengganti klubub), grindo, dan alat bubut untuk membuat gagang sabit atau garuk. Sedangkan pembakarannya tetap menggunakan arang.

“Saya datang kesini ingin mepehno cangkul, Mas. Saya sudah biasa datang ke sini untuk mempertajam cangkul dan sabit saya. Murah kok kalau narek Rp. 25 ribu, tapi kalau mepeh cuma Rp. 10 ribu,” timpal Hartono, warga Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu.

Meski kerajinan itu masih tetap eksis sampai sekarang, namun perkembangan zaman telah menjadikan banyak perajin meninggalkan warisan leluhurnya. banyak alasan yang melatarbelakangi mereka berhenti menjadi pande besi dan memilih pekerjaan lain. Yakni munculnya peralatan pertanian modern seperti traktor, mesin pemotong rumput dan sebagainya.

“Sekarang hanya tinggal 26 kepala keluarga yang masih menekuni pekerjaan ini. Mereka tergabung dalam paguyuban pande besi Desa Kedaton,” sambung Kepala Desa Kedaton, Suntiyono.

Selain membuat peralatan pertanian, para perajin itu juga menerima servise cangkul maupun sabit yang sudah tumpul dari warga. Bahkan ada beberapa perajin yang sudah memproduksi cetok (alat tukang batu).

Pemerintah desa (Pemdes) setempat akan terus mempertahankan potensi ini karena Desa Kedaton sudah dikenal masyarakat luas sebagai produsen alat pertanian tradisional. Selain itu juga untuk mendukung Bojonegoro sebagai lumbung pangan negeri. (d suko nugroho)

Baca Juga :   Senja di Blok Cepu, Menikmati Kopi Kothok dan Bekicot Goreng

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *