SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Operator migas Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL) mengaku tetap optimis dapat melakukan produksi puncak minyak Banyuurip di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sesuai jadwal yakni pada Oktober 2014 mendatang. Meskipun saat ini pelaksanaan proyek Engineering Procuremen and Construction (EPC) Banyuurip mengalami kemunduran.
Field Public and Government Manager MCL, Rexy Mawardijaya, mengatakan, pihaknya akan selalu berkolaborasi dengan kontraktor Engineering Procuremen and Construction (EPC) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK-Migas) dalam mengidentifikasi peluang untuk memaksimalkan produksi Banyuurip.
“Kami akan tetap berupaya memaksimalkan produksi ditahun 2014 secara aman, efektif dan efisien, Mas,” ungkap Rexy Mawardijaya melalui pesan pendek, Kamis (28/11/2013).
Hanya saja, ketika disinggung jika target produksi puncak tak terpenuhi, apakah MCL akan memberikan sanksi kepada kontraktor EPC, Rexy tidak memberikan jawaban.
Sebelumnya, anggota Komisi VII DPR RI, SW Yudha menegaskan, jika produksi puncak Blok Cepu tidak tercapai pada 2014 mendatang dapat dipastikan bakal merugikan negara. Karena hal itu bisa menjadikan pendapatan negara dan bahkan produksi minyak secara nasional turun.
“Kalau produksi puncak Blok Cepu molor dapat dipastikan negara ikut rugi, Mas,” kata SW Yudha kepada suarabanyuurip.com disela acara lokakarya jurnalistik foto dan televisi untuk wartawan beberapa waktu lalu.
Mantan Directur of Federal Relations and Business Dvelopment untuk Atlantic Richfield Company (ARCO) itu menjalaskan, jika produksi puncak bisa dilakukan pada bulan Agustus pendapatan minyak nasional bisa mencapai kurang lebih 860.000 – 870.000 barel per hari (bph). Namun, jika molor satu bulan saja dari bulan Agustus sampai Oktober akan turun sekira 10.000 bph sampai 20.000 bph.
“Molor satu bulan saja komulatif mengurangi produksi minyak sekira 15.000 bph sampai 20.000 bph, dan secara otomatis negara akan rugi ratusan juta rupiah,” jelasnya.
Politisi Partai Golkar ini menambahkan, kerugian itu bisa dihitung dari harga minyak dunia. Semisal, jika harga minyak dunia USD100 per barel per hari. Maka kerugian itu tinggal mengalikan USD 100 kali 20.000 bph.
“Kalikan saja 100 dolar kali 20.000 maka nanti akan ditemukan nilai kerugiannya, Mas,” sarannya.
Karena itu dia meminta kepada MCL untuk terus mendorong kontraktornya agar dapat menyelesaikan pekerjaan pembangunan fasilitas produksi sesuai jadwal sehingga puncak produksi Blok Cepu sesuai target.(sam)