SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro- Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur prihatin dengan tingginya angka bunuh diri yang dilakukan remaja dengan berbagai latar belakang berbeda. Tercatat, pada akhir Nopember kemarin tiga remaja nekad bunuh diri karena putus cinta.
Ketua P3A Bojonegoro, Mahfudhoh Suyoto, menyampaikan, salah satu faktor remaja di Bojonegoro yang melakukan bunuh diri karena frustasi dan kurangnya kontrol dari orang tua.
“Saya sangat prihatin sekali, dalam jangka waktu satu bulan saja sudah ada tiga remaja yang mati karena bunuh diri,” kata istri Bupati Bojonegoro Suyoto ini.
Menurut dia, perhatian orang tua sangat penting terhadap perilaku putra putrinya. Terlebih bagi orang tua yang mengutamakan karier dan kurang memiliki waktu untuk keluarga.
“Kasih seorang Ibu harus seperti lautan, bumi dan langit,” pesan Mahfudhoh.
Sementara itu, seorang siswi di SMPN terkenal di Bojonegoro, Fb (14), remaja asal Desa Kalitidu Kecamatan Kalitidu harus dilarikan ke rumah sakit swasta karena diduga menenggak racun tikus. Beruntung nyawa siswi kelas II tersebut berhasil diselamatkan.
“Saya hanya minum obat Mbak, tiba-tiba perut mual pengen muntah,” sambung Fb ketika ditemui  SuaraBanyuurip di rumah sakit.
Gadis berparas cantik ini menceritakan kisah hidup keluarganya yang tak berjalan harmonis. Ke dua orang tuanya telah bercerai dua tahun lalu dan sekarang masing-masing telah memiliki anak lagi.
“Selama ini saya tinggal sendiri bersama bude, kakak ibu saya,” ujar dia.
Namun ketika ditanya ihwal meminum racun dan harus dilarikan ke rumah sakit, Fb enggan bercerita benyak. Dia hanya mengatakan, sesaat sebelum pingsan merasa ingin tidur dan tidak ingin bangun lagi.
“Sudah ya Mbak, jangan ditanya lagi,” pintanya.
Sementara itu pihak rumah sakit swasta dan keluarga korban tidak ada yang memberikan keterangan terhadap kasus Fb ini.(rien)