SuaraBanyuurip.com -Â Ali Musthofa
Blora – Potensi sumur minyak tua yang dimiliki Kabupaten Blora, Jawa Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Namun tak sedikit investor yang datang dan pergi karena tingginya investasi yang butuhkan di bisnis ini.
Larinya investor itu dikarenakan bisnis di sumur peninggalan zaman Belan ini memerlukan biaya yang tinggi sedangkan hasilnya sulit diprediksi.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT. Blora Patra Energi, Christian Prasetya, mengungkapkan, keberadaan sumur tua itu akan banyak memberikan manfaat kepada daerah bila potensi sumur sudah memperlihatkan hasilnya.
“Seperti terciptanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal sekitar lokasi penambangan,” katanya.
Ratusan sumur tua yang ada di Blora, menurut Christian, tidak semuanya menghasilkan minyak mentah dikala dilakukan proses penambangan.
“Sementara ini hanya di tiga lapangan saja yang bisa menghasilkan yaitu di Lapangan Kedinding, Banyubang, dan ledok,” kata dia, mengungkapkan.
Padahal masih ada beberapa lapangan lagi yang menyimpan ratusan sumur tua. Diantaranya,
Menurut Christian, keberadaan sumur minyak tua di Kabupaten Blora yang berada di beberapa blok. Diantaranya Blok Temetes, Kluwih, Petak, Lusi, dan  Semanggi.
Menurutnya, butuh modal besar untuk mengelola sumur minyak tua itu. Modal awal dibutuhkan untuk mengelola satu titik sumur tua berkisar Rp250 juta sampai Rp300 juta.
“Investasi sebesar itu hanya mampu mencukupi untuk mengoperasikan kembali (maintenance) sumur yang telah lama ditinggalkan,” tegas Christian.
Lokasi sumur minyak tua kebanyakan berada di dalam hutan milik perhutani. Untuk bisa menemukannya, kelompok penambang biasanya melakukan penyisiran ke sejumlah tempat di dalam hutan yang disinyalir ada titik sumur.
Saat ditemukan kebanyakan mulut sumur tertutup cor dan tertimbun tanah dengan kedalaman sekitar tiga hingga lima meter.(ali)