Gorong-gorong Kaliglonggong Dikeluhkan Warga

lahan wanti

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Warga Dusun Kaliglonggong, Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur mengeluhkan banyaknya Box Clufert (gorong-gorong/saluran air) yang tidak berfungsi masimal yang dipasang di sekitar proyek sumur minyak Banyuurip, Blok Cepu. Akibatnya saat hujan turun deras membuat kondisi lahan pertanian warga di sekitar proyek banyak yang rusak.

Gorong-gorong yang tidak berfungsi maksimal itu berada di bawah jembatan Kaliglonggo, selatannya lokasi we’ll pad C Banyuurip.

Warga Kaliglonggong, Wanti, mengatakan, sejak pertengahan bulan Oktober 2013 hujan lebat terus mengguyur lokasi proyek Blok Cepu. Hal itu, tidak didukung dengan saluran air yang memadai di sekitar proyek. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang rusak.

“Pematang sawah saya juga sering hancur diterjang air ketika hujan lebat turun, Pak. Karena, saluran airnya tidak maksimal,” kata Wanti ketika ditemui dilahan pertaniannya, Selasa (17/12/2013).

Wanita paruh baya itu, menjelaskan, sejak dulu air meluap itu sudah sering terjadi. Namun, tidak seperti sekarang ini yang selalu merusak lahan pertanian. Karena banyak saluran air yang dulu ada sekarang sudah banyak yang diratakan saat pengerjaan proyek berjalan.

Baca Juga :   Mensesneg Sebut Cepu Bisa Menjadi Pusat Ekonomi dan Pendidikan Migas

“Banyak saluran air yang dulu ada sekarang banyak yang hilang tertutup bangunan. Baik untuk pembangunan jalan maupun kepentingan proyek lainnya. Sehingga, air saat ini masuk kesawah saya semua, Pak. Akibatnya, tanaman padi, dan lahan pertanian yang saya miliki rusak,” jelasnya.

Warga Kaliglonggong lain, Pasilan, menambahkan, melubernya air itu diduga karena saluran air yang dibawah jembatan Kaliglonggong tidak mampu menampung debet air saat kondisi hujan turun dengan lebat. Sehingga, membuat air mambek dan meluber kesawah warga. Akibatnya, lahan pertanian yang ada menjadi rusak.

“Penyebabnya saluran air di bawah jembatan Kaliglonggong diberi ruji besi. Jadi, banyak ranting kayu maupun limbah dari kampung terhenti. Akibatnya, air tidak bisa mengalir lancar, Pak,” sambung Pasilan menerangkan.

Dikonfirmasi terpisah, Community Affairs PT Tripatra Engineers & Constructors, kontraktor proyek EPC-1, Budi Karyawan, terkait dengan keluhan warga Kaliglonggong tersebut hingga berita ini diturunkan belum memberikan jawaban.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *