SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tidak seperti biasanya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ikut demo belasan orang yang mengatasnamakan Petani Tuban Korban Import (PTKI) di halaman gedung perwakilan rakyat dan juga halaman Pemkab Tuban, Selasa (24/12/2013).
Anggota dewan itu adalah Sunoto, dari fraksi PDI Perjuangan. Dia bersama belasan petani membawa tuntutan agar Menteri Pertanian bangga terhadap hasil pertanian Indonesia. Salah satunya adalah jagung.
Dalam aksinya Sunoto juga meminta kepada pemerintah supaya jagung lokal dengan harga sekitar 2.800 rupiah per kilogram disamakan dengan harga jagung import yang mencapai 3.400 per kilo gramnya. “Kami meminta supaya Pemerintah menolak import dan utamakan hasil pertanian lokal,†kata Sunoto, berorasi.
Sementara itu, koordinator aksi, Agus Arsana, warga Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, menyebut, kalau kebijakan import jagung yang akan dilakukan pemerintah akan menyengsarakan petani lokal. Karena saat ini hasil pertanian lokal justru membutuhkan pengamanan dari pemerintah. Sehingga mereka mengharapkan kebijakan import yang akan dilakukan harus ditinjau ulang.
“Kami juga meminta penegak hukum, polisi, jaksa, dan KPK menyelidiki adanya dugaan korupsi jagung import di Kementerian Pertanian,†tegas Agus.
Sekretaris Daerah (Setda) Tuban, Heri Sisworo, usai menemui massa aksi di Pemkab Tuban, mengatakan, kalau daerah tidak bisa menghindari kebijakan pusat. Meski begitu, tuntutan dari petani yang melakukan demo kali ini akan disampaikan kepada kepemerintahan yang lebih tinggi.
Selain itu, Pemkab juga akan mendesak instansi terkait, dalam hal ini Dinas Pertanian, agar meningkatkan hasil pertanian supaya dampak import ini tidak begitu terasa karena ketersediaan pasokan lokal yang cukup.(edp)
“Dengan ketersediaan yang cukup, maka import tersebut tidak akan masuk ke daerah,†sambung Heri, menjelaskan.
Aksi yang diikuti oleh salah satu anggota DPRD Tuban kali ini membawa banyak komentar. Â Diantaranya adalah beberapa jurnalis yang merasa kaget ketika melakukan peliputan peristiwa tersebut.
“Kalau begitu fraksi yang ada di DPRD tidak berfungsi, kalau anggota dewan saja demo,†celetuk salah satu jurnalis di lokasi demo.(edp)