SuaraBanyuurip.com -Â Ali Musthofa
Blora – Puluhan warga yang tinggal di Dukuh Pucung RT/RW. 03/05, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah  terisolir. Pasalnya, jembatan satu-satunya sebagai akses transportasi ke desa lain terputus.
Putusnya jembatan dari besi ini akibat terjangan banjir bandang yang meluap karena sungai tak mampu menampung debit air hujan yang deras akhir-akhir ini. Kondisi itu menjadikan warga kesulitan untuk berinteraksi dengan warga di seberang sungai. Dikarenakan warga yang tinggal di Dukuh Pucung  hanya mengandalkan jembatan itu.
Agus Riyanto, Warga Desa Ngraho kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (24/12/2013), berharap agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Blora memperhatikan serius putusnya jembatan tersebut.
“Kini warga hanya mengandalkan jembatan darurat dari kayu glugu,” katanya.
Ari Jenggot, demikian akrab disapa mengutarakan, jembatan yang sudah berusia puluhan tahun itu tak mampu menahan terjangan banjir dadakan yang biasa datang ketika hujan deras mengguyur Desa Ngraho dan sekitarnya.
“Jembatan itu merupakan akses satu-satunya menuju pusat Desa Ngraho ataupun ke desa lain.Karena tidak ada jalan lain untuk memutar. Jadi pembangunan jembatan itu mutlak diperlukan,” harap Ari Jenggot.
Dia katakan, selain untuk akses berinteraksi dan bersosialisasi antar warga, jembatan itu juga dipakai warga untuk melakukan aktivitas perekonomian, seperti berdagang maupun memasarkan hasil pertanian.
“Belum lagi anak-anak sekolah yang mau berangkat ke sekolah juga gunakan akses jembatan tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ngraho, Sumardji, membenarkan adanya jembatan yang putus tersebut. Dirinya berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun kembali.
“Kami sudah membuat laporan ke tingkat kecamatan. Agar diajukan kepemerintah daerah untuk mendapatkan bantuan dibangun jembatan baru,” tambahnya.
“Karena jembatan itu akses utama warga kami yang tinggal di dukuh Pucung sebanyak 17 KK,” katanya.(ali)