SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Perkiraan mundurnya produksi puncak minyak Banyuurip, Blok Cepu sebanyak 165 ribu barel per hari (bph) pada Oktober 2014 mendatang memantik perhatian Komisi VII DPR-RI. Komisi dewan yang memibidangi masalah migas itu meminta semua pihak untuk ikut mengawasi proyek Blok Cepu.
Tanda-tanda kemoloran produksi puncak itu dilihat dari belum selesainya pengerjaan proyek engineering, procurement and constructions (EPC) 1 dan 5 Banyuurip yang berpusat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Akibatnya jadwal produksi puncak yang sebelumnya dipatok pada Agustus 2014, mundur pada Oktober.
Anggota komisi VII DPR-RI, SW. Yudha, mengatakan, monitoring progress atas proyek Blok Cepu yang dilaksanakan Mobil Cepu Limited (MCL) perlu terus dilakukan bersama. Dengan begitu, maka akan dapat diketahui bersama dimana letak kekurangan atau masalah yang bisa menyebabkan terjadinya kemoloran.
“Saya akan minta semua pihak terkait, mulai dari Kementerian ESDM, SKK-Migas, dan Bupati untuk memonitor progres MCL dari waktu ke waktu untuk mengantisipasi molornya produksi MCL,” kata SW. Yudha kepada suarabanyuurip.com melalui BlackBerry Messenger (BBM), Jumat (03/01/2014).
Menurut dia, dengan cara memonitor progress MCL itu diharapkan tidak ada pihak yang saling menyalahkan.
“Ini diperlukan untuk mempelajari sebab-sebabnya. Apabila itu benar terjadi, sehingga tidak ada yang saling menyalahkan satu sama lain,” tegas politisi Partai Golkar ini.
“Kemunduran 1 bulan saja akan mengurangi total lifting nasional sekitar 10 – 15 ribuan untuk produksi 2014,” imbuh SW Yudha.(sam)