SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Kenaikan harga LPG ukuran 3 Kg dan 12 Kg oleh Pertamina sejak 1 Januari 2014 lalu tidak membuat sebagian warga Desa Nguken, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro,Jawa Timur kebingungan. Hal ini dikarenakan mereka menggunakan gas alami yang ke luar melalui sumur pompa sejak beberapa tahun terakhir.Â
“Sejak bapak saya membuat saluran gas dari sumur pompa kami sekeluarga tidak pakai gas LPG dari pemerintah,” kata Titis (30), warga Desa Nguken kepada SuaraBanyuurip.com.
Dia mengatakan,walaupun harga gas terus mengalami kenaikan sejak awal konvensi penggunaan gas elpiji tidak menjadikan warga bingung. Tak khawatir harus mengeluarkan uang banyak untuk memasak.
“Alhamdulilah, kami sekeluarga tidak takut menggunakan gas alami ini. Meskipun manual dan buatan bapak saya sendiri Insya Allah aman,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Pasiah (55), warga Desa Nguken Rt 4 Rw 1 menyampaikan, selama ini bersama sepuluh tetangga lainnya menggunakan gas alami yang ke luar dari sumur pompa sejak tahun 1985 silam. Meskipun begitu, tidak semua warga desa Nguken menggunakan gas alami seperti miliknya.
“Kalau kami sekeluarga ya agak takut,tapi alhamdulilah sampai saat ini aman, Mbak,” tandasnya.
Dia mengungkapkan, belum ada tindak lanjut apapun dari Pemerintah Kabupaten dengan keberadaan gas liar ini. Siapa tahu dengan sumber gas yang besar di Desa Nguken bisa menjadi inovatif pemerintah meringankan beban rakyat kecil akibat kenaikan harga LPG.
“Ya mereka yang lebih pintar, kasihan tetangga lain yang tidak menggunakan gas alami seperti kami,” tandasnya. (rien)