SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menagih janji operator Lapangan Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Perochina East Java (JOB P-PEJ). Â
Jika sebelumnya JOB PPEJ akan memberi bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) tahun 2013, ternyata hingga memasuki pertengahan bulan Januari 2014 belum ada realisasi. Selain juga berbagai bantuan sosial lain yang ditawarkan pun sampai saat ini belum ada yang dilaksanakan.
Kepala BPD Sambiroto, Sujono, menegaskan, belum ada koordinasi sama sekali dari JOB PPEJ mengenai program CSR tahun 2013. Bahkan, pihaknya telah berkali-kali melayangkan surat menanyakan kelanjutan program CSR yang sudah ditawarkan enam bulan yang lalu.
“JOB P-PEJ sendiri yang menawarkan kami beberapa program, seperti fogging, pengobatan gratis, infrastuktur, penghijauan dan lainnya. Tapi, mana? Sampai sekarang tidak ada kabar apapun,” ujarnya jengkel, Senin (13/1/2014).
Dia menyatakan, bersama pemerintah desa dan karang taruna telah menata sedemikian rupa program CSR yang ditawarkan tersebut. Namun, tampaknya masyarakat harus gigit jari.
“Apalagi sekarang musim penghujan, adanya fogging sangat penting,” tukasnya.
Dia berharap, JOB P-PEJ memenuhi janjinya untuk memberikan apa yang menjadi hak masyarakat. Karena bagaimanapun letak pengeboran migas berada tidak jauh dari permukiman.
” Jangan anak tirikan kami, yang lain sudah cair kenapa Sambiroto belum. Bukan berarti kami tidak demo terus diacuhkan begini,” imbuhnya.Â
Bahkan, Kepala Desa Campurejo, Edi Sampurno, mengeluhkan sistem yang diberikan JOB PPEJ dalam melaksanakan program CSR di desanya.
“Kami merasa kesulitan kalau harus menggunakan invoice atau penagihan,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaan CSR, JOB PPEJ meminta pemdes untuk menunjuk toko material dan bangunan sebagai suplayer, akan tetapi dalam sistem pembayaran tidak bisa langsung melainkan menggunakan invoice atau penagihan.
“Kalau pakai invoice kan lama cairnya, lha yang mau nomboki membeli barang siapa,” keluh Edi.
Dari total dana yang diberikan kepada desa sebesar Rp430.000.000, baru cair sebesar Rp7.500.000 untuk membuat 5 buah jamban, dan Rp 14.000.000 untuk plengsengan atau pembatas jalan.
“Sisanya banyak yang belum, masih bingung cari toko yang mau mengirim barangnya tapi tiga minggu baru dibayar,” pungkasnya.
Terpisah, Field Administration Superintendant JOB P-PEJ, Basith Syarwani, belum memberikan jawaban mengenai keluhan tersebut. (rien)