Nilai Kinerja BUMD Belum Maksimal

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro, Jawa Timur menilai kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) belum maksimal bahkan belum bisa memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Syukur Prianto, mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) memiliki BUMD yaitu PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) yang ditargetkan mampu menangkap peluang adanya industrialisasi minyak dan gas bumi (migas) yang di operasikan tiga kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) seperti Mobil Cepu Limited (MCL), Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ) dan Pertamina EP Asset 4.

“Karena dari awal sumber daya manusia yang dipekerjakan disana tidak ada yang mumpuni,” tegasnya kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (24/1/2014).

Syukur menandaskan, secara administrasi dan manajemen, PT BBS belum mampu menangkap peluang baik dari segala jenis pekerjaan. Padahal ada operator migas yang bertahun-tahun beroperasi tapi tidak satupun peluang usaha yang diambil BUMD.

“Selama yang memegang orang-orang yang tidak berkompeten di bidangnya ya tidak akan jalan, membangun fasilitas gas flare saja banyak alasan,” tegas politisi Partai Demokrat itu.

Baca Juga :   PPSDM Migas Latih ASN KESDM Tentang Ketidakpastian Pengukuran Alat Kalibrasi

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama PT BBS, Deddy Afidick, mengaku, pihaknya belum ada keterlibatan sama sekali di sumur migas Tiung Biru (TBR) oleh Pertamina EP Asset 4 karena sepengetahuannya pengembangan sumur tersebut belum full speed saat ini dan baru produksi awal dari beberapa sumur yang dibor untuk eksplorasi dulu.

“Kalau tidak salah minyaknya juga msh diangkut pakai truk tangki belum ada pipa,” sergah mantan pejabat MCL yang sudah lebih dari 29 tahun berkecimpung didunia hulu migas itu.

Untuk terlibat dalam proyek migas pihaknya harus membicarakan dengan operator, karena salah satu peran BUMD menggalang potensi lokal contohnya dibidang sipil.

“Kami hanya terlibat di  proyek Banyuurip seperti penyiapan perkantoran, penginapan, pergudangan, dan pembangunan pagar sepanjang 9 kilo meter,”ujar Deddy memaparkan.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *