Tak Semua Warga Miskin Pegang Kartu BPJS

Srikin di RS swasta

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro –  Manajer Badan Penyelenggara Jaminan Sosial  (BPJS)  Kabupaten  Bojonegoro, Jawa Timur, Hary Soebijakto,  mengungkapkan,  sosialisasi terkait pelayanan  BPJS  kini terus  dilakukan.  Namun,  untuk  pendaftarannya  masih  dilakukan  di kantor  pusat di masing-masing kabupaten.

“Untuk pendaftaran di kecamatan nanti  mengikuti,  sekarang  masih  dalam  proses uji coba pengoperasian pendaftaran melalui online,” ujarnya saat dihubungi  SuaraBanyuurip.com, Sabtu (8/2/2014).

Hary  menjelaskan, pihaknya  masih  melakukan  rapat  pembahasan  pengembangan  IT  di  Malang  untuk  program  yang  bisa  langsung  cetak  di tempat.  Selain  melalui  online,  pendaftaran  BPJS  nantinya  bisa juga dilakukan di perbankan setempat. 

“Di kecamatan nantinya akan terus mengikuti,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, untuk saat ini sosialisasi masih terus dilakukan yakni melalui kelompok  masyarakat, elemen mahasiswa, serta melalui  badan  usaha  bahkan  di  wilayah  Tuban  dan  Lamongan. 

“Besok Senin ada juga sosialisasi di Parengan, Tuban dan Lamongan,” pungkasnya.

Hal  itu  membuat  sebagian  masyarakat  miskin  belum  bisa  menikmati  layanan  kesehatan  yang  diberlakukan  sejak  awal  2014 tersebut.  Bahkan, dari  pantauan  di  lapangan  ada  salah  satu  warga  miskin  di  Kabupaten  Bojonegoro  tidak  mendapatkan  pengobatan  gratis  di  Rumah  Sakit  Umum  Daerah  (RSUD)  Dr Sosodoro  Djatikoesoemo, Bojonegoro. 

Akhirnya masuk  di  Rumah  Sakit  swasta  dengan menanggung  biaya  besar.  Warga  kurang  mampu  yang  ditolak  untuk  mendapat  pengobatan  gratis  itu,  karena  tidak  memiliki  kartu  Badan  Penyelenggara  Jaminan  Sosial  (BPJS). 

Baca Juga :   Bupati dan Dandim Bojonegoro Cek Desa Perbatasan

Sudah  satu  minggu  lebih,  Srikin (51),  Warga  Desa  Mbareng,  Kecamatan  Ngasem,  Kabupaten  Bojonegoro  ini  mendapatkan  perawatan  intensif  di  Rumah  Sakit  Aisyah  Kota  Bojonegoro,  akibat  sakit  lambung  yang  dideritanya.

Pihak  keluarga  sebenarnya  menginginkan  agar  Srikin  dirawat  di Rumah  Sakit  Pemerintah.  Lantaran  tidak  memiliki  kartu  BPJS,  pihak  RSUD  justru  menyarankan  agar  dibawa  ke  Rumah  Sakit  lainnya.

“Awalnya  kami  bawa  ke  RSUD  tapi  katanya  penuh,  disuruh  ke  rumah  sakit  lain,”  lanjutnya. (rien) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *