Wartawan Bodrex Merajalela di Lamongan

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Banyaknya wartawan Bodrex di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur meresahkan pejabat di lingkungan Pemkab setempat. Keberadaan mereka merusak  citra wartawan asli yang ngepos di Bumi Sunan Drajat.

Dari penelusuran SuaraBanyuurip.com, ulah wartawan Bodrex, sebutan kalangan jurnalis untuk wartawan  yang tak jelas medianya, di Lamongan membuat para pejabat resah. Hampir semua kantor di lingkungan Pemkab Lanongan, kantor camat hingga kantor UPT yang berada di kecamatan diobok-obok wartawan Bodrex.

Dalam beraksi, para wartawan awu-awu tersebut selalu datang berombongan tiga sampai empat orang. Dengan penampilan ala preman mereka datang ke kantor-kantor dengan mencari-cari persoalan yang di bidangi kantor setempat.

“Mereka cenderung mengintimidasi, menakut-nakuti akan dimuat, namun ujung-ujungnya minta uang bensin,“ ujar seorang pejabat di lingkungan Pemkab Lamongan yang keberatan identitasnya ditulis.

Di tingkat bawah, kantor kecamatan dan kantor UPT kecamatan seperti UPT Pendidikan, UPT Pertanian setiap hari diserbu oleh wartawan Bodrex. Biasanya mereka datang dengan alasan silahturohim tanpa konfirmasi sebuah berita.

Baca Juga :   Tripatra Bantu Kayu Bekas Korban Kebakaran

“Setiap hari selalu ada wartawan datang, Mas, rata-rata dua sampai empat wartawan. Biasanya setiap datang selalu rombongan,“ kata Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Pucuk, Rozikin.

Rozikin tidak tahu apa mereka wartawan asli atau abal-abal. Menurutnya, mereka yang biasa datang tidak pernah melakukan konfirmasi atau menunjukkan hasil tulisan di medianya.

Pengakuan senada juga dilontarkan Sekcam Sekaran, Sakur. Biasanya mereka datang dengan alasan silahturohim atau sekedar mampir.

Walau merasa terganggu dengan keberadaan wartawan tidak jelas tersebut, baik Roqikin maupun Sakur mengaku, selalu memberikan amplop kepada setiap wartawan Bodrex yang datang. Nilainya Rp10.000 sampai Rp15.000 untuk bensin.

Para pejabat menyayangkan sikap tidak tegas Kabag Humas Lamongan, Mochamad Zamroni, yang membiarkan wartawan Bodrex merajalela. Dulu sekitar tahun 2008 pernah ada surat edaran dari Kabag Humas sebelum Zamroni,  tentang daftar nama dan media wartawan yang ngepos di Lamongan.

“Namun sekarang tidak ada lagi, semua yang datang ngaku wartawan tidak jelas mana yang Bodrex dan asli,“ ujar Sekcam Sukodadi, Agus, secara terpisah. (tok)

Baca Juga :   Penjual Bensin Eceren Meraup Berkah Pilkades

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *