SuaraBanyuurip.com -Â Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Peluang usaha di proyek Banyuurip, Blok Cepu terbilang menjanjikan bagi yang bisa menangkapnya. Karena banyak multiplier effect dari meningkatnya aktifitas mega proyek yang berpusat di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Salah satunya di Dusun Puduk, Desa Bonoreo, Kecamatan Gayam. Di desa yang menjadi lokasi proyek engineering, procurement and construction (EPC) – 1 dan 5 Banyuurip itu, belakangan ini warung-warung kecil mulai berjejeran.
Peluang itu yang menjadikan alasan Yuli Astutik, untuk berhenti menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Warga Mojodelik, Kecamatan Gayam itu kemudian mendirikan warung di sekitar lokasi proyek Banyuruip.
Yuli Astutik bersaing dengan warung-warung kecil untuk mengadu nasib menjala rupiah dari pekerja proyek Migas. Tak banyak yang dia jual, hanya makanan dan minuman ringan namun sudah cukup memberi penghasilan.
“Tiga tahun saya merantau disana,” katanya.
Dengan membukan warung mamin itu, dalam setiap harinya, Yuli bisa mendapatkan omzet Rp100 ribu – 150 ribu. Namun jumlah tersebut tidak pasti, karena jumlah warung di sekitar lokasi kian banyak.
“Yang penting bisa ada pemasukan sehari-hari. Selain itu harus bisa menjaga hubungan baik dengan pelanggan,” ujar Yuli, mengungkapkan.
Akan tetapi saat disinggung soal penutupan pagar ketika proyek sudah terselesaikan, dia mengaku pasrah.
Sementara itu, nasib berbeda dialami, Sujud, warga Desa Gayam. Dia lebih memilih merantau ke Kalimantan lantaran tak kunjung mendapat pekerjaan. Sujud memutuskan merantau untuk mencari pekerjaan sudah tiga bulan sebelum dilaksanakannya pemilihan kepala desa (Pilkades) belum lama ini.
“Lha tidak ada kerjaan kok, mau bagaimana lagi,” sambung Sujud.
Dia mengaku, tidak tertarik mendirikan usaha warung mamin karena keterbatasan modal. Selain itu, bekal dan pengalamanya pun kurang mumpuni. Sementara dia harus menghidupi dua anaknya yang masih kecil.
“Merantau saja dulu, siapa tahu rezekinya disana,” tuturnya pasrah. (roz)