SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan-Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Lamongan di tahun 2013 mencatat jumlah perempuan yang menikah dibawah usia 20 tahun sebanyak 1.065 orang dari 10.475 perempuan yang ada di wilayah setempat.
Meski masih tergolong tinggi, namun jumlah itu menurun jika dibanding tahun 2012, yakni sebanyak 1.223 perempuan.
Menurut Kepala BPPKB Lamongan, Hamdani Azhari kepada suaraBanyuurip.com, Rabu (27/2/2014), selama tahun 2013 presentase terbanyak dari usia pernikahan perempuan dilakukan antara usia 21-25 tahun, yakni sebanyak 6.549 pernikahan atau 65,52%. Sedangkan pada usia 26-30 tahun sebanyak 2.116 atau 20,20% dan di atas 30 tahun mencapai 7,11% atau sebanyak 745 perkawinan.
Menurut Hamdani, penurunan usia menikah di bawah 20 tahun ini merupakan hasil dari salah satu program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Program itu merupakan program kependudukan untuk mengendalikan jumlah penduduk yang langsung sasarannya terhadap perkawinan agar mencapai usia minimal pada saat perkawinan 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi pria.
Hamdani mengungkapkan, usia perkawinan pertama seorang wanita mempengaruhi periode lama kesuburan dan peluangnya untuk hamil dan melahirkan anak. Demikian pula resiko hamil pada usia di bawah 20 tahun cukup besar. Seperti resiko keguguran, takanan darah tinggi, keracunan kehamilan, timbulnya kesulitan perkawinan, hingga berat bayi lahir rendah dan resiko kanker leher Rahim.
“Karena itu kami berupaya terus untuk menurunkan angkanya melalui program Pendewasaan Usia Perkawinan,” ujar Hamdani.
Dari data yang dihimpun oleh BPPKB menyebutkan, Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM/baca target) terhadap alat kontrasepsi baru pasca persalinan dan pasca keguguran di tahun 2013 mencapai 116,62 % yakni sebanyak 38.423 dari 32.948 PPM.  Sedangkan dari 7 alat kontrasepsi yakni  intra uterine device (IUD), Medis Operasi Wanita (MOW), Medis Operasi Pria (MOP), Kondom, Implan, Suntuk, dan PIL, metode yang permintaannya melebihi PPM yakni suntik yang mencapai 19.261 permintaan atau 175 % dari target 10.950 permintaan.
Untuk metode MOW tercatat sebanyak 379 pemenuhan permintaan, IUD sebanyak 2.236 dan kondom sebanyak 1.681. Sedangkan pil tercapai 10.875 pemenuhan permintaan dan yang paling kecil adalah metode MOP yang tercatat 63 pemenuhan permintaan yang meski melampaui target sebanyak 55 pemenuhan permintaan.
Atas upaya di bidang kependudukan itu Lamongan tahun lalu mendapat apresiasi berupa Manggala Karya Kencana dari Kepala BKKBN. “Semoga ini menjadi motivasi bagi petugas di lapangan untuk terus bersemangat mendidik masyarakat,“ pungkas dia.(tok)
Â