SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Dinas Perhubungan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengaku kecewa dengan operator minyak dan gas bumi (Migas) yang tidak pernah berkoordinasi selama melakukan kegiatan transportasi alat berat maupun pengangkutan alat-alat untuk kebutuhan proyek, Kamis (5/3/2014).
Kepala Dinas Perhubungan, Iskandar, mengatakan, selama ini tidak ada satupun operator migas yang memberitahukan aktifitas transportasi untuk kebutuhan proyek. Baik itu yang menggunakan truk trailer, pengangkutan tiang pancang, maupun alat-alat Migas lainnya.
“Kalaupun mereka sudah menggandeng Satlantas dari provinsi bukan berarti mengerti kondisi lalu lintas disini,” ujarnya dalam nada geregetan.
Bahkan, Iskandar menyatakan telah melaporkan hal itu kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Perwakilan Jabamanusa dan memang mengakui adanya kelalaian dari pihak operator atau KKKS.
“Saya sudah lapor SKK Migas di Surabaya, mereka bilang sudah menegur KKKS tapi masih saja belum ada koordinasi dengan kami,” tukasnya.
Iskandar berharap, siapapun KKKS yang melakukan transportasi tersebut untuk tetap melaporkan waktu dan jenis kendaraan yang melewati jalan utama Bojonegoro-Padangan.
“Saya saja tidak tahu itu KKKS mana yang tidak melapor, tapi sudah jelas kalau angkutan alat berat dan alat lainnya untuk proyek migas,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Publick and Government Affair Manager Mobil Cepu Ltd (MCL), Rexy Mawardijaya, menyampaikan, kegiatan operasional MCL mengutamakan keselamatan dan mengikuti aturan yang berlaku termasuk peraturan lalu lintas yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
“Atau bisa dicek langsung dengan kontraktor yang bersangkutan dulu,” pungkasnya.
Sementara itu, baik dari kontraktor EPC 1 dan 5 belum memberikan keterangan tersebut, hingga berita ini diturunkan. (rien)