Desak Pabrik Pembakaran Timah Ditutup

SuaraBanyuurip.com -  Totok Martono

Lamongan- Persoalan polusi asap dari cerobong perusahaan pembakaran timah di Desa Pucuk, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur kian memanas dan memantik reaksi keras dari para kepala desa di wilayah setempat. Para petinggi desa itu mendesak agar pabrik ditutup.

Alasannya, puluhan perusahaan pembakaran timah selama bertahun-tahun telah menimbulkan pencemaran udara di wilayah Kecamatan Pucuk, Sekaran dan Maduran. Karena itu, para kepala desa mendesak kepada Camat Sekaran untuk menutup aktifitas perusahaan yaang beromzet milyaran rupiah tersebut.

“Kami minta Pak Camat bersikap tegas. Karena banyak masyarakat yang mengeluh menderita sakit ISPA. Dada rasanya sesak,” kata kades Trosono, Sutrisno.

“Banyak kades yang mengeluh tentang polusi asap yang dianggap mengganggu kesehatan. Para kades meminta saya untuk melakukan protes,“ kata camat Sekaran Yaslihan kepada Suarabanyuurip.com senin (10/3/2014).

Jarak Desa Trosono dengan pabrik pengolahan Timah sekira 10 kilometer, namun setiap malam asap tebal yang terbawa angin selalu mengarah kedesa ini. Kondisi itu tidak saja menyebabkan ganggung pernafasan, asap tebal juga mengganggu jarak pandang. Jangkauan jarak pandang hanya sekitar 2 meter.

“Kalau malam warga jadi enggan keluar rumah mas karena asap tebal menutupi pemandangan,” ujar Sutrisno, mengungkapkan.

Dikonfirmasi terpisah, Kades Bugel, Sulistyowati, mengungkapkan, polusi asap dari pengolahan pabrik timah telah meresahkan warganya. Sejak 6 bulan menjabat kades, sudah tak terhitung warga yang melaporkan masalah tersebut kepada pihak desa.

“Yang bisa saya perbuat hanya lapor Pak camat mas, agar jubung timah bisa ditutup atau dicarikan solusi lain agar tidak timbul masalah terus, “ sambung Sulistowati.

“Untuk segera menyelesaikan masalah ini, bupati harus segera turun tangan,” tegas Kades Bulutengger, Sumadi.

Camat Sekaran, Yaslihan, membenarkan, jika banyak kepala desa di sekitar pabrik pengolahan timah yang meminta agar aktifitas tersebut ditutup. Saat ini pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan Muspika Kecamatan Pucuk tentang dampak dari pencemaran perusahaan timah tersebut. Selain itu langkah-langkah lain juga akan segera dilakukan agar persoalan berlarut tersebut dapat segera selesai.

“Kita masih koordinasikan,” tegas Yuslihan.

Camat Pucuk Yuliwahyuwono saat dikonfirmasi Suarabanyuurip.com mengatakan, dari puluhan perusahaan pembakaran timah, sudah sekitar 20 jubung yang melengkapi dengan alat flow filter untuk menyaring asap. Namun diakuinya pula masih banyak pengusaha yang enggan  membeli alat yang konon berharga ratusan juta tersebut.

Saat suara banyuurip.com meninjau ke lokasi, puluhan jubung yang berlokasi di area persawahan tersebut terlihat sepi aktifitas. Hampir semua pagar tertutup rapat sehingga tidak ada satupun pemilik jubung yang bisa dikonfimasi.

Proses pembakaran timah selama ini dilakukan tengah malam hingga menjelang subuh. Proses pembakaran timah menggunakan kayu bakar dan tidak dengan solar. (tok)

Baca Juga :   Bupati Bojonegoro Terbitkan SE Efisiensi, ASN Diminta Naik Sepeda ke Kantor

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *