SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Proyek migas Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, telah membuka peluang baru bagi warga sekitar. Mereka yang dulunya bertani, kini beralih membuka warung makan dan minuman  (Mamin) di sekitar lokasi proyek untuk melayani para pekerja.
Dari pantauan di lapangan, lebih dari 10 warung makanan dan minuman berjejer di sekitar proyek kampung tunnel, yang masuk wilayah proyek Engineering Procurement and Construction (EPC)- 1 Banyuurip di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Mereka mengais rejeki dari tetesan peluh para pekerja proyek.
Puluhan warung itu tak hanya didirikan oleh warga sekitar proyek saja. Namun juga dari luar daerah seperti warga Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, dari warga Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, dan bahkan ada juga warga asal Gresik, Jawa-Timur.
Nurul, warga Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, mengaku, dirinya tertarik untuk ikut membuka warung di ladang migas Banyuurip tak lain ingin menangkap peluang usaha untuk mendapatkan rejeki.
“Sebenarnya, saya sudah sekitar 3 bulan lalu buka warung disini, Mas. Tapi sempat berhenti jualan, dan baru sekitar dua minggu ini saya kembali jualan lagi,” kata Nurul kepada suarabanyuurip.com, Selasa, (11/03/2014).
Setiap harinya Nurul berjualan pagi hingga sore hari. Yakni sekira pukul 7.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB.  “Kalau soal berapa hasil yang tak dapat itu relatif, Mas. Tinggal, pelanggan dari pekerja proyek yang datang untuk makan dan minum,” ujarnya.
“Kalau nanti sumur Alas Tua Barat (ATW) digarap lagi saya juga akan membuka warung kopi disana. Berubung sekarang belum dikerjakan saya jualan disini dulu,” imbuh warga yang berdomisili tak jauh dari lokasi sumur migas ATW tersebut.
Warung-warung yang ditempati warga itu mayoritas adalah lahan milik Negara yakni lahan yang sudah masuk dalam area proyek. Meskipun letaknya diluar pagar lokasi. Dengan kondisi itu mereka harus bersiap angkat kaki ketika sewaktu-waktu lahan itu digunakan untuk kepentingan proyek.(sam)