SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Ahmad Fatoni (20), pemuda asal Desa Mulyorejo, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, harus kecewa karena niatnya untuk meminta beasiswa sekolah pilot kepada pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat ditolak Bupati Bojonegoro, Suyoto.
Dengan diidampingi keluarganya, satu-satunya siswa berprestasi dari SMU 1 Bojonegoro yang diterima sekolah pilot itu mengaku, tidak mampu membayar biaya yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
“Saya ingin Bojonegoro seperti Kabupaten lain yang memberikan beasiswa kepada siswa berprestasi untuk dapat bersekolah pilot,” kata Ahmad kepada Bupati Suyoto saat dialog publik di Pendopo Malowopati, Jum’at (14/3/2014).
Menanggapi hal itu, Bupati Suyoto mengaku, saat ini Pemkab Bojonegoro tengah fokus untuk memberikan pelatihan dan sertifikasi migas kepada pemuda dan pemudi Bojonegoro. Sehingga jika Pemkab membiayai sekolah pilot yang membutuhkan dana sekira Rp 500 juta, maka ratusan anak-anak di Bojonegoro tidak dapat mengikuti pelatihan karena anggarannya akan tersedot untuk beasiswa pilot. Untuk biaya sertifikasi migas satu anak bisa bernilai dua belas juta rupiah.
“Bukan kita tidak mampu memberikan beasiswa sekolah pilot. Tapi saat ini pemuda Bojonegoro sedang membutuhkan pelatihan dan sertifikasi migas,†kata Suyoto memberikan tanggapan.
Suyoto mengaku, telah bertemu Direktur Utama Lion Air, Rosdi Kirana yang juga teman dekatnya selama ini untuk membantu pemuda Bojonegoro menyekolahkan Pilot. Dari situ mendapatkan penjelasan, dari anggaran sebesar Rp 450 juta, sebesar Rp 75 juta akan dibantu pihak sekolah.
Kang Yoto, sapaan akrabnya, mengatakan, apabila bisa maka BUMD PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS), akan memfasilitasi dengan memberikan pinjaman untuk sekolah pilot tersebut.
“Sebenarnya kita punya uang untuk membantu, tapi akan kehilangan empat ratus ribu anak Bojonegoro untuk di didik migas,” pungkasnya.(rien)