SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, menegaskan, dengan adanya industrialisasi minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masyarakat maupun pemerintah setempat diminta jangan takut untuk menghadapi masuknya budaya dari luar yang dapat menggerus budaya lokal.
“Jangan takut melawan pengaruh dari luar, dengan memperkuat seni budaya dan tradisi sendiri itu akan menjadi benteng,” kata Mari usai acara Ngobrol Budaya bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro di ruang Angling Dharma, Jumat (14/3/2014).
Dia menyatakan, dari tempat atau lokasi yang dikunjungi mulai dari tempat industri kerajinan kayu jati, batik, dan sanggar tari, itu sudah ada upaya untuk melestarikan yang tradisional.
Mari mengungkapkan, di era Industrialisasi migas ini masyarakat harus memperkuat mata pencaharian dan peningkatan kesenjangan ekonomi di luar migas dan di luar pertanian. “Salah satunya di sentra perkebunan belimbing, yang memang orang-orangnya memiliki latar belakang petani,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Bojonegoro, Kuzaini, menyampaikan, kekhawatirannya mengenai masuknya budaya asing oleh industrialisasi migas yang dapat merusak moral seperti di Indramayu, Jawa Barat.
“Disana banyak status janda, anak tanpa bapak karena maraknya kawin kontrak, dan problem moral lainnya,” tegas pria yang baru saja dilantik oleh Bupati Bojonegooro tersebut.
Karena itu diberharap kepada semua pihak untuk memikirkan bersama bagaimana agar industrialisasi migas ini tidak mempengaruhi budaya dan kearifan lokal yang selama ini sudah menjadi jati diri masyarakat Bojonegoro.(rien)