SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro- Harga lahan di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, sekitar wilayah proyek unitisasi sumur gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) terus merangkak naik menjelang pelaksanaan proyek Gas Cepu.
Sebelumnya harga lahan di wilayah tersebut per meter persegi hanya Rp50.000 hingga Rp100.000, kini menembus angka Rp 400.000 per meter persegi.
Seorang warga Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Suparmin, mengatakan, harga lahan di sekitar Desa Pelem saat ini sudah menembus kisaran Rp 400.000 per meter persegi. Hal itu seiring dengan adanya rencana pembebasan lahan untuk proyek migas.
“Hampir semua lahan disini harga per meternya sudah tinggi, Pak. Bisa mencapai Rp 400.000 per meternya,” kata Suparmin kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (15/03/2014).
Pria yang berdomisili di RT/RW 05/01 itu menjelaskan, lahan miliknya seluas sekira 6000 M2 juga akan dijual jika terkena pembebasan nantinya. Tentunya jika sesuai dengan harga penawaran.
“Per meternya saya jual Rp 400.000, Pak. Karena lahan produktif, dan bisa panen padi dua kali,” ujar Suparmin, menjelaskan.
Kepala Urusan Pemerintahan (Kaur Pem) Desa Pelem, Munari, membenarkan jika harga lahan di sekitar desanya ada kenaikan. Hal itu dipengaruhi adanya kabar proyek migas. Sebab desas-desus akan dimulainya proyek Gas Cepu sudah banyak didengar masyarakat.
“Karena akan adanya migas ini warga menaikkan harga. Sebab, sudah banyak warga yang mendengar,” ujar Munari dikonfirmasi suarabanyuurip.com secara terpisah.
Dia mengungkapkan, harga tanah di desanya sebelumnya relatif harga umum sesuai nilai jual obyek pajak (NJOP). Yakni rata-rata berkisar Rp50.000 sampai Rp100.000 per meter. Namun belakangan mulai naik dikisaran Rp300.000 hingga Rp400 ribu per meter.
“Tergantung lokasinya juga, kalau di pinggir jalan biasanya lebih mahal. Lain itu, saya juga belum tahu secara persis titik lahan mana saja yang akan terkena pembebasan yang akan digunakan untuk proyek JTB. Tetapi, kabarnya disini memang akan terlewati jalur pipa,” kata dia, mengungkapkan.
Munari berharap, Â baik dari Pertamina EP Cepu maupun dinas terkait lainnya untuk segera menentukan kepastian waktu pembebasan lahan sekaligus harganya agar warga bisa menerima kejelasan informasi sehingga tidak simpang siur.
“Saya harap warga jangan hanya terkesan digantung saja. Kerana, sosialisasi sudah dilakukan, dan pihak BPN juga menjanjikan akan segera menentukan harga per meternya. Dengan tidak merugikan pemilik lahan ataupun petani sekitar proyek nantinya,” tambah dia.(sam)