SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Petani di ring 1 Lapangan Migas, Blok Cepu, di wilayah Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari dari sector pertanian. Sebab banyak lahan pertanian yang dibebaskan untuk mega proyek yang di operatori Mobil Cepu Limited (MCL) tersebut.
Salah satu petani Dusun Temlokorejo, Desa Gayam, Partin, mengatakan, kehidupan warga kususnya petani sekarang sudah semakin sulit seiring menyusutnya lahan pertanian. Sedangkan disisi lain mereka tak memiliki keterampilan memadai untuk terlibat di proyek Banyuurip.
“Petani sekitar proyek migas Banyuurip sekarang bisa dikatakan sengsara, tidak seperti dulu sebelum ada proyek. Karena lahan pertanian sudah berkurang,” kata Partin kepada suarabanyuurip.com, Senin (17/03/2014).
Dia mengaku, sebelum ada proyek hasil panen yang dia dapat berkisar 2-3 ton. Namun setelah lahannya terkena pembebasan hasil panen yang didapat sekira 2 ton. “Sekarang sawah saya tinggal 3 kedok. Dengan hasil itu sudah ngoyo,†aku Partin.
Selain lahan pertaniannya menyusut, dia juga sudah tak lagi berternak sapi. Sebab saat ini sulit mencari lahan penggembalan maupun pakan ternak. “Sekarang sulit mencari lokasi angon karena sudah banyak yang jadi lokasi proyek dan dipagari,” keluhnya.
“Saya berharap pemerintah Bojonegoro segera mengambil kebijakan untuk memberikan pertolongan terhadap petani. Agar kedepan petani disini tidak semakin bertambah sengsara. Namanya pertolongan dengan cara apapun yang penting petani bisa mencukupi kebutuhan keluargannya,” sambung Yanto warga Desa Gayam lainnya.(sam)