SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Bojonegoro Institute (BI) bekerja sama dengan Article 33 menggelar workshop menuju transparansi dan akuntabilitas industri ekstratif pada tingkat daerah di ruang Batik Madrim lantai II kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (19/3/2014).
Workshop yang digelar dua hari itu mengundang perwakilan Extractive Industries Transparancy Initiative (EITI) dan Accountability Compostela Valley Province of Philiphines dan dihadiri Bupati Bojonegoro Suyoto beserta seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.
Bupati Suyoto, mengatakan, Bojonegoro dijadikan contoh karena dianggap sebagai contoh nasional level untuk transparansi insiatif. Bukan hanya telah membuat Peraturan Daerah (Perda) Transparansi, tapi ada sebelas perda yang mendukung hal itu.
Suyoto menyatakan, berterimakasih atas  kedatangan semua pihak untuk sharing bagaimana perjalanan untuk melawan natural resources. Adanya migas diambil dari alam, berarti akan menciptakan ketidak seimbangan baru.
“Semua itu ada rumusnya, bagaimana pendapatan migas untuk manusia supaya manusia punya misi dan pemberdayaan,” katanya.
Dia menjelaskan, setiap pendapatan minyak sebagai bagian rasa keadilan. Semua orang harus tahu berapa hasil dari minyak, untuk apa uangnya, dan transparansi bagaimana tanggung jawabnya.
“Dengan begitu konflik sosial terhindari,” imbuhnya.
Sementara itu, Vice Chair MSC on El Tranparency and Accountability Comval Province Philipines, Hon Augusto Blanco, menyampaikan, Â Compostela Valley Province of Philiphines adalah sebuah provinsi yang memiliki kekayaan alam yaitu emas akan tetapi dalam bagi hasil emas tersebut sangat kecil bahkan dampak sosialnya belum ada sama sekali.
“Karena Compostela Valley dan Bojonegoro sama-sama memiliki kekayaan alam, tetapi Bojonegoro sangat bagus dalam tata kelola dana bagi hasil migas dan saya belajar untuk itu,” katanya.
Dia mengungkapkan, pihaknya akan belajar bagaimana menggunakan uang dari sumber daya alam itu sebaik-baiknya agar apa yang terjadi beberapa tahun lalu di Compastella Valley tidak terulang lagi.
“Ditempat saya, adanya tambang emas belum memberikan hasil maksimal karena uang yang dihasilkan sangat kecil,” ungkap Hon Augusto Blanco.(rien)