SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan- Sejak tahun 2009, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan, Jawa Timur telah mengalokasikan anggaran untuk air bersih dan sanitasi hingga mencapai Rp 7,612 miliar. Namun sampai saat ini, baru sekitar 18 persen masyarakat Lamongan yang mendapat akses air bersih. Padahal target Millenium Development Goal’s (MDG’s) adalah 80 persen.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Lamongan, Aris Wibawa, ,mengatakan, sejak tahun 2011 Kabupaten Lamongan telah mendapat bantuan air bersih dan sanitasi dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau U.S Agency for International Development (USAID) melalui Program Indonesian Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH).
“Kabupaten Lamongan terpilih menjadi salah satu kabupaten/kota yang mendapatkan perhatian khusus dari USAID melalui seleksi dan survei sehingga dapat terlaksana workshop kali ini,†ungkap Aris Wibawa saat Workshop Urgensi Pengelolaan Air Limbah Domestik Bagi Penentu Kebijakan di Ruang Pertemuan Hotel Grand Mahkota, Selasa (25/3/2014).
Keterangan serupa disampaikan Imam Suhadi, Governance Specialist IUWASH. Dia menyampaikan, bahwa IUWASH berupaya membantu pemerintah meraih target MDG’s.
“IUWASH berupaya membantu pemerintah meraih kemajuan untuk mencapai target MDG’s melalui perluasan akses terhadap air bersih dan layanan sanitasi yang aman,†kata Imam Suhadi.
Dia mengatakan, bahwa 70-80% limbah domestik mencemari sungai di Indonesia. Dimana air sungai tersebut merupakan air baku yang diolah PDAM untuk kebutuhan masyarakat. Tidak kurang 199 ton tinja dibuang ke sungai setiap harinya yang setara dengan kotoran dari 66 gajah Sumatera dan 664 meter kubik urin perhari dibuang ke sungai yang setara 132 truk tangki BBM.
“Melalui kegiatanini diharapkan diperoleh informasi dan pengetahuan tentang limbah domestik, “ ujarnya.
Sesuai data yang diperoleh, sejak tahun 2009, total belanja APBD Lamongan untuk air bersih dan sanitasi mencapai Rp 7,612 miliar. Yakni di tahun 2009 dianggarkan Rp 902,050 juta, tahun 2010 Rp 942,040, tahun 2011 naik menjadi Rp 1,213 miliar, tahun 2012 sebesar Rp 1,432 miliar dan tahun 2013 lalu mencapai Rp 1,550 miliar.
Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Lamongan, Yuhronur Efendi, menyampaikan, bahwa target MDG’s penyediaan air bersih di Lamongan adalah 80%. Namun yang saat ini telah tercover baru mencapai 18%.
“Air bersih merupakan persoalan yang sangat krusial, limbah domestik juga selalu meningkat karena pertumbuhan penduduk juga meningkat sehingga pengelolaan limbah domestik sangat penting. Dari workshop ini saya harapkan mendapatkan kebijakan yang secara dini dapat mengatasi persoalan tersebut,†ungkap Yuhronur Efendi.(tok)