SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Slogan ingin menjadi tetangga yang baik atau menjadi bagian dari masyarakat yang diusung operator minyak dan gas bumi (migas), tampaknya masih sebatas isapan jempol.
Peneliti budaya dan tradisi masyarakat asal Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Suhariyadi menyebut, kalau hingga saat ini belum ada tanda-tanda masyarakat, khususnya di Tuban yang merasa memiliki keberadaan industri migas di sekitarnya.
“Masyarakat belum merasa kalau ikut memiliki industri migas di wilayahnya, bahkan sebaliknya (cenderung memusuhi),†ujar pria yang juga aktif mengajar sastra dan budaya di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban ini, Rabu (2/4/2014).
Menurut Suhariyadi, hal itu menandakan kalau operator migas masih bersikap eksklusif di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat masih belum mau menerima industri migas dengan tangan terbuka.
“Contohnya apabila ada orang baru yang mendiami suatu tempat, dia harus tau kebiasaan lingkungan barunya supaya dapat diterima,†kata bapak dengan satu cucu itu, mengungkapkan.
Untuk itu Suhariyadi menyarankan, kepada pelaku industri migas tidak harus kaku dalam menyikapi kebudayaan setempat. Justru operator migas harus juga mempunyai tanggung jawab dalam mempertahankan  nilai-nilai tradisi masyarakat yang ada di Tuban.
“Apalagi memaksakan hal-hal baru yang tidak pernah dikenal masyarakat,†tandas Hariyadi.
Suhariyadi menambahkan, kalau pelaku industri migas sudah benar-benar diterima masyarakat, maka secara otomatis masyarakat akan mempunyai rasa memiliki. Dengan rasa memiliki itulah kemudian masyarakat akan ikut menjaga keberlangsungan proses eksploitasi. Bukan malah memusuhi.
“Syarat untuk menjadi tetangga yang baik adalah dengan cara perhatikan lingkungan, sosial, kesejahteraan, komunikasi, dan hormati segala hal yang telah menjadi kebiasaan masyarakat. Dengan begitu, menjadi tetangga atau bagian dari masyarakat bukan sekedar slogan kosong,†kritiknya.(edp)