SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Kelompok Karya Bersama salah satu dari 22 kelompok yang didampingi Yayasan Bina Swadaya, lembaga swadaya masyarakat yang dipercaya operator ladang migas Banuurip, Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL), dalam program Coorporate social Responsibility (MCL) yang akan digulirkan pada tahun 2014 ini mengaku belum mengetahui persis arah kedepan programyang akan dilaksanakan.
“Selama 10 kali pertemuan, saya belum tahu persis program kedepannya seperti apa, Pak. Yang saya tahu hanya tetang menabung, program pertanian, dan peternakan saja. Itupun saya masih bingung juga,” kata Mualimin Sekretaris kelompok Karya Bersama Dusun Temlokorejo, Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur kepada suarabanyuurip.com, jum’at (04/04/2014).
Dia menjelaskan, dalam teknis menabung, untuk uang pokok bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Yakni tabungan pertama senilai antara Rp20.000 hingga Rp50.000 per bulan.
“Kalau tidak salah, pembentukannya bulan Desamber 2013 kalau tidak awal Januari 2014 di rumah pak Lurah Gayam, sebelum pilkades. Untuk menabung kelompok di Desa Gayam, uang mukannya Rp100.000 dengan tiap sebulan sekali menabung Rp20.000, dan anggota kelompok Karya Bersama sebanyak 22 orang,” kata dia, menjelaskan.
Mualimin menambahkan, sebelumnya, anggota kelompok Karya Bersama sebanak 25 orang. Namun, yang tiga orang mengundurkan diri karena diminta membayar uang atau menabung. Karena biasanya program yang digulirkan MCL tidak ada menabung. Tetapi langsung disuport berupa barang atau lainnya.
“Awalnya banyak warga yang kepingin ikut, Pak. Berubung ada uang nabungnya akirnya warga tidak simpati lagi. Saya sendiri juga masih meragukan dengan pendamping karena personilnya dari luar daerah. Tetapi, uangnya terkumpul di bendahara dari orang sini sendiri, jadi keraguan saya agak berkurang,” kata dia, mengungkapkan.
Mualimin menambahkan, jika selama 4 tahun uang tabungan terkumpul banyak bisa digunakan simpan pinjam seperti koperasi. Selain itu juga bisa dibuat membeli kambing dan usaha lainnya. “Tetapi sementara diutamakan untuk kelompok terlebih dulu,” pungkas dia.
“Saya sebagai warga hanya melihat saja, Pak. Bagaimana kelanjutannya program yang tidak seperti biasanya ini. Sebab biasanya program yang digulirkan MCL selalu ada barang dan baru mengarah yang lainnya di internal kelompok,” sambung Yanto, warga Gayam lain yang tidak tergabung dalam kelompok Karya Bersama. (sam)