SuaraBanyuurip.com -Â Ali Musthofa
Blora – Ketergantungan masyarakat, khususnya para pelaku usaha di Kabupaten Blora, Jawa Tengah untuk mendapatkan modal di koperasi sangat tinggi. Hal itu pula yang menjadikan keberadaan koperasi di Blora menjamur.
Berdasarkan data yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Mikro (Disperindagkp dan UMKM) Blora, Maskur, bahwa untuk jumlah koperasi pada tahun  2010 mencapai 524, di  tahun 2011 menurun menjadi  522, sedangkan di  tahun 2012 sebanyak 524.
“Dan tahun tahun 2013 meningkat lagi menjadi sebanyak 603,” katanya, Selasa (8/4/2014).
“Dari jumlah tersebut yang aktif tahun 2010 sebanyak 417 koperasi, tahun 2011 sebanyak 421 koperasi, tahun 2012 sebanyak 419, dan tahun 2013 sebanyak 417 koperasi,†terangnya.
Menurut Maskur untuk koperasi tidak aktif angkanya juga meningkat. Jika tahun 2010 dan 2011 jumlahnya 101, pada tahun 2012 naik 105. Sementara tahun 2013 lalu yang tidak aktif menjadi 125 koperasi.
Maskur menjelaskan, pemicu koperasi tidak aktif karena pengurusnya yang tidak kompak serta manajemen kerjanya yang kurang baik. Sehingga mati. “Itu terjadi kebanyakan pada koperasi usaha tani,” tegas dia.
Dia mengatakan, masih aktifnya koperasi itu tak lepas dari peran UMKM yang tumbuh di Kabupaten Blora. Sebab para pelaku usaha mikro tersebut sebagian meminjam modal usahanya kepada lembaga koperasi tersebut.
â€Keberadaan UMKM yang bergantung modal dari peminjaman koperasi menjadikan koperasi semakin berkembang. Dalam hal ini Disperindagkop dan UMKM selalu mendorong pada pelaku usaha untuk berkomunikasi dengan lembaga keuangan atau perbankan dan koperasi. Karena itu penting untuk kemajuan dan perkembangan usahanya,” ujar Maskur.(ali)